Pagi datang, tetapi tubuhku tidak benar-benar siap untuk menghadapi dunia yang semakin terang. Rasanya seperti semalaman ada sesuatu yang terus menarikku ke alam bawah sadar, tetapi bukan mimpi buruk, bukan pula halusinasi, hanya medan tidak terlihat yang sejak kemarin menempel di seluruh sendi. Bahu yang terasa berat, kelopak mata yang seolah dipasangi pemberat, dan tekanan halus di dalam dada yang tidak bisa kutentukan sumbernya.
Mungkin beginilah rasanya hidup terlalu lama di dalam tempurung yang salah. Ketika ditarik keluar, semua energi seperti disedot pelan-pelan. Sampai tubuhku lupa mana gerak yang lahir dari keinginan sendiri, mana yang cuma respons terhadap tarikan luar.
Dari kamar belakang terdengar suara kursi roda Nabila bergeser. Suara itu kecil, nyaris biasa. Namun pagi ini terasa seperti bunyi pusat gravitasi rumah mulai kembali bekerja.
Aku membuka mata dengan lambat. Di kepalaku masih tertinggal wajah Nabila yang tertidur di bawah efek obat semalam, suara Gavin tentang arsip lama, dan bayanganku sendiri di cermin, seorang perempuan berusia hampir tiga puluh tahun yang masih sulit membedakan diri dari siluet kembarannya.
Mungkin, lelah memang tidak pernah datang sebagai rasa yang biasa. Dia datang ketika tubuh akhirnya sadar bahwa selama ini ia bergerak terlalu jauh dari dirinya sendiri.
Ketukan kecil terdengar di pintu.
“Nay, obat Nabila tinggal dua,” suara Ibu dari luar.
Kalimat itu sederhana, tetapi langsung menggeser semua rasa berat ke dalam daftar kewajiban.
Aku bangun terlalu cepat. Ruangan sempat berputar tipis. Namun seperti biasa, aku memilih menyebutnya hal sepele. Kurang tidur. Belum sarapan. Masuk angin.
Di rumah ini, perempuan belajar mengecilkan rasa sakit agar hari tetap berjalan dengan layak.
***
Kereta pagi lebih penuh dari biasanya. Tubuh-tubuh berdiri berhimpitan, memegang handle, memandangi layar ponsel, mempersiapkan diri menjadi roda kecil dari mesin kota. Aku berdiri dekat pintu sambil memegang tas ranselku, membiarkan tubuhku bergerak mengikuti ayunan gerbong. Namun setiap getaran rel terasa naik ke tulang.
Di kaca pintu kereta, pantulan wajahku tampak pucat. Untuk sesaat, lagi-lagi aku tidak yakin itu wajahku atau Nabila. Mata lelah. Bahu turun. Mulut yang terlalu sering menahan kata-kata.