Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #9

Rekam Medis

Pagi setelah tubuhku jatuh di lantai Vinella, aku ijin tidak masuk kerja. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membiarkan tubuhku memilih arah. Dan ia membawaku ke rumah sakit. Mungkin inilah bentuk paling jujur dari usahanya untuk kembali. Tubuh yang sudah terlalu lelah ini, mencoba berjalan menuju tempat yang selama ini hanya kukenal sebagai orbit luka Nabila. Memasukinya sebagai seseorang yang akhirnya ingin tahu apa yang membuat seluruh keluarga kami bergerak mengelilingi kehancuran yang sama.

Lorong putih itu masih sama. Lampu yang terlalu terang. Bau antiseptik yang seperti menempel di tenggorokan. Kursi plastik yang dingin bahkan sebelum diduduki. Namun pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Aku datang bukan untuk mengantar obat. Bukan untuk mendorong kursi roda Nabila. Bukan juga untuk menenangkan Ibu.

Aku datang untuk membaca. Membaca apa yang selama ini disimpan lebih rapi oleh rumah sakit daripada oleh orang-orang di rumah kami sendiri.

Di meja administrasi arsip, tanganku sempat berhenti di atas formulir permintaan dokumen.

Nama pasien: Nabila Pradipta.

Menulis nama itu terasa seperti mengetuk pintu kamar yang selama tujuh tahun kami pilih untuk dibiarkan tertutup. Tetapi tubuhku, yang kemarin sudah lebih dulu runtuh demi didengar, kini terasa lebih tenang saat pena terus bergerak. Menulis namanya.

Mungkin memang hanya dengan kembali ke pusat luka, seseorang bisa mulai memahami bentuk dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, petugas membawa keluar sebuah map abu-abu dengan sudut yang aus dimakan waktu. Dia meletakkannya di depanku dengan gerakan datar, seolah benda di dalamnya hanyalah lembar administrasi biasa. Padahal aku tahu, map yang kini kuletakkan di pangkuanku bukan sekedar arsip. Benda itu adalah pusat gravitasi yang selama ini diam-diam menarik hidup kami ke arah kehancuran yang nyaris tidak berujung.

Aku menarik napas.

Lalu membukanya dengan hati-hati.

Halaman pertama berisi data dasar.

Nama pasien: Nabila Pradipta

Usia: 22 tahun

Status: belum menikah

Keluhan awal: sulit tidur, menarik diri, tangisan mendadak, penolakan makan

Bahasa rumah sakit selalu punya cara untuk membuat rasa sakit tampak lebih kecil daripada kenyataannya. Hanya empat baris gejala. Padahal di rumah, gejala itu adalah piring yang tidak disentuh, malam-malam ketika Ibu menangis diam-diam, dan pintu kamar yang tidak pernah benar-benar terbuka.

Aku membalik halaman.

Catatan observasi psikiater memenuhi lembar berikutnya dengan tulisan rapi yang nyaris terlalu tenang.

Pasien menunjukkan respons cemas ekstrem terhadap figur laki-laki dewasa tertentu.

Menghindari kontak mata. Mengalami flashback visual terkait ruang akademik.

Subjek menyebut: ruang bimbingan, pintu dikunci, jangan bilang Ayah.

Tanganku berhenti.

Lihat selengkapnya