Saat aku sampai di ujung gang, langit sudah berubah jingga keabu-abuan. Anak-anak kecil masih bermain sepeda di depan mushola. Ibu-ibu duduk di warung sambil memecah kulit kacang dan hidup orang lain yang menjadi bahan obrolan.
Aku melambat sebelum masuk ke halaman rumah. Di depan pagar, Gavin berdiri di dekat pintu besi yang cat hitamnya mulai mengelupas. Kamera tergantung di dada, tetapi kali ini lensanya menghadap ke bawah, seolah dia juga tahu ada beberapa hal yang tidak pantas lagi dilihat dari kejauhan.
“Kamu dari rumah sakit?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. Tidak ada tenaga untuk berpura-pura aku baik-baik saja. Setelah membaca map abu-abu itu, seluruh tubuhku terasa seperti ruang yang baru saja dibobol. Aku kehilangan seluruh energiku.
Gavin menatap wajahku lebih lama dari biasanya. “Kamu sudah lihat semuanya?”
Aku mengangguk pelan.
“Dia sekarang wakil rektor.”
Gavin terdiam. Wajahnya langsung berubah geram. “Ternyata benar,” desisnya lirih.
Aku tertawa kecil, getir. “Kalau dia punya posisi setinggi itu,” napasku terasa berat untuk melanjutkan, “apa mungkin aku melaporkan semua ini untuk pemeriksaan etik?”
Dia tidak langsung menanggapi. Di luar pagar, dua ibu tetangga yang baru pulang dari pengajian melirik kami sambil berbisik pelan. Aku tidak perlu mendengar jelas untuk tahu nama siapa yang sedang mereka bicarakan. Nama Nabila selalu mudah berpindah dari mulut ke mulut. Kadang sebagai kasihan. Kadang sebagai gunjingan. Kadang sebagai peringatan tentang bagaimana perempuan bisa terbakar jadi abu jika terlalu dekat bermain api.
Aku meraih gagang pagar. Besi itu masih hangat oleh matahari sore. Aneh sekali bagaimana rumah sesederhana ini tetap punya pagar, seolah kami masih punya sesuatu yang perlu dijaga dari dunia luar. Padahal yang paling merusak justru sering datang dari dalam, diamnya seorang Nabila, kontrol berlebihan dari seseorang yang mengaku perhatian, dan rahasia yang dikubur lebih rapi daripada harta karun.
Saat aku mendorong pagar, suara motornya lebih dulu terdengar. Motor Wildan. Yamaha Vixion merahnya berhenti mendadak di depan rumah, terlalu dekat dengan kaki Gavin.
Mesin motor mati dengan cepat, tetapi hawa panasnya tetap tinggal di udara. Wildan melepas helm tanpa senyum. Tatapan pertamanya jatuh ke Gavin. Tatapan kedua langsung mengarah padaku. Setelahnya baru beralih menatap pagar yang masih setengah terbuka.