Malam itu Wildan tidak langsung pulang. Bahkan setelah Gavin mengantar obat Nabila yang dibelinya dari apotik dekat rumah kami dan berpamitan, Wildan masih duduk di ruang tengah seperti seseorang yang terlalu yakin kursi plastik dekat rak obat itu memang disediakan untuknya.
Ibu beranjak ke dapur. Membuatkan teh.
Aku membenci betapa cepat rumah ini belajar menerima laki-laki yang datang membawa suara tegas dan alasan bernama perhatian.
Nabila duduk di kursi rodanya di dekat jendela, memandang ke luar dengan tatapan mata yang tidak bisa kutebak. Bayangan jeruji roster jatuh melintang di wajahnya, membuatnya tampak seperti perempuan yang bahkan di dalam rumah pun masih hidup di balik garis-garis pembatas.
Wildan menyeruput teh yang baru dihidangkan, lalu menatapku.
“Kamu kenapa sekarang sering nggak bilang kalau pergi?”
Aku berdiri di dekat meja makan, masih memegang plastik obat yang belum sempat kususun. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi aku tahu, kesederhanaan sering menjadi baju paling rapi untuk sesuatu yang ingin menguasai.
“Aku pergi ke rumah sakit,” jawabku. “Untuk lihat arsip Nabila.”
Wildan mengangguk. “Harusnya kamu bilang.”
Aku menarik napas. “Kenapa harus?”
Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang kuduga.
Ruang tengah langsung berubah suhu. Ibu menghentikan gerakan tangannya menyusun blister obat. Dari kamar belakang, kipas angin berdengung terlalu keras, seolah rumah kami sendiri ikut gugup mendengar kata yang jarang sekali kuucapkan, kenapa.
Wildan menaruh gelasnya. “Aku pacar kamu, Nay.”
Aku menatap wajahnya lurus. Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat pola yang selama ini kubiarkan tumbuh. Dia yang harus selalu tahu jam kerjaku, dia yang bisa menentukan siapa yang layak berteman denganku, dia yang marah jika aku pulang tanpa melapor terlebih dulu, dia yang datang ke rumahku seolah punya hak atas seluruh ruang di dalamnya. Dan sekarang, di rumah yang baru saja kubaca pusat lukanya dari rekam medis, aku melihat bentuk kuasa yang jauh lebih lugas.
“Aku tahu,” kataku pelan. “Tapi itu nggak berarti semua gerakku harus lewat persetujuanmu.”
Kalimat itu membuat wajah Wildan menegang.