Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #13

Malam Terakhir Ayah

Opay belum pergi sampai siang. Itu saja sudah cukup aneh untuk membuat rumah terasa seperti menahan napas. Biasanya setelah mandi, berganti kaos, dan meneguk kopi pahit buatan Ibu, dia akan lenyap lagi ke dunia yang lebih ramah bagi orang-orang yang tidak ingin tinggal lama di rumah sendiri. Klub malam, studio musik, atau apartemen teman-temannya yang penuh asap rokok dan dentum bass. Tempat-tempat yang tidak pernah menuntutnya menjadi anak lelaki satu-satunya. Tetapi hari ini dia masih ada. Duduk di teras belakang sambil merokok, menatap jemuran yang bergerak pelan ditiup angin.

Aku menghampirinya membawa dua gelas kopi.

Dia mengangkat sebelah alis, heran. “Kopi dari lo biasanya pertanda ada maunya.”

Aku duduk di kursi plastik seberangnya. “Gue mau nanya sesuatu.”

Opay tertawa kecil, tanpa humor. “Nah, benar kan.”

Beberapa detik kami hanya mendengar suara sendok dari dapur dan motor lewat di gang depan.

Aku menatap wajah adikku itu. Garis rahangnya yang makin keras, lingkar mata yang menghitam akibat tumpukan dari tidur yang kurang selama bertahun-tahun, dan sorot orang yang terlalu lama hidup di malam hari agar tak perlu berurusan dengan bising pagi.

“Lo tahu malam terakhir sebelum Ayah dibawa polisi?”

Tangan Opay yang memegang rokok berhenti di udara.

Tidak lama. Tetapi cukup untuk membuatku tahu pertanyaanku mengenai sasarannya.

Dia mengembuskan asap ke samping. “Ngapain nanya sekarang?”

“Karena gue capek hidup dari potongan cerita dan rasa bersalah karena ga ada di kondisi terburuk kalian waktu itu.”

Kalimat itu keluar tenang.

Opay meringis. “Seharusnya malam itu gue ada di Pondok Salada bareng lo, ikut naik gunung lebih baik daripada ikut menyaksikan kejadian malam itu.”

Opay menatap jemuran, bukan aku.

“Waktu gue pulang, rumah udah kacau.” Suaranya terdengar dalam. Laki-laki muda berusia seperempat abad di hadapanku akhirnya menyeret kembali satu ingatan yang selama ini dia kubur sendirian.

“Ibu nangis sambil terus memeluk Najwa. Kak Nabila di kamar, nggak mau buka pintu.”

Aku diam. Opay jarang menyebut Nabila dengan nada selembut itu.

“Ayah duduk di ruang tamu. Di meja ada hasil USG.”

Lihat selengkapnya