Dua hari setelah percakapanku dengan Opay tentang malam terakhir Ayah, Gavin datang menjelang adzan Isya. Dia membawa laptop abu-abu tua. Bukan kamera seperti yang biasa tergantung di dadanya. Bukan pula amplop cokelat berisi foto seperti waktu di Vinella. Bukan benda dramatis yang terlalu sadar sedang menyimpan rahasia. Hanya laptop dengan sudut tergores, stiker Photography Studies College (PSC) Melbourne yang mulai mengelupas, dan charger yang kabelnya dililit terlalu rapi, kebiasaan orang yang bertahun-tahun hidup sendiri.
“Aku nemu sesuatu waktu nyari arsip di g-drive,” katanya.
Malam itu rumah berada di jeda yang rapuh. Ibu tertidur di sofa setelah mengganti popok Nabila, Najwa masih belajar mengaji di TPA, dan Opay masih bertahan di rumah untuk hari ketiga secara berturut-turut. Itu sudah terasa seperti keajaiban kecil.
Aku duduk di meja makan, berhadapan dengan Gavin.
“Apa?”
Dia membuka laptop, masuk ke akun email lama yang tampaknya nyaris tidak pernah disentuh lagi. “Ini akun kampusku,” katanya pelan. “Yang kupakai sebelum berangkat ke Aussie.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Karena untuk pertama kalinya, masa lalu tidak datang sebagai cerita orang, tetapi sebagai sesuatu yang masih punya tanggal, waktu, dan jejak server.
Gavin memutar layar ke arahku. Subjek email itu pendek.
Kalau aku terlambat, tolong baca ini.
Pengirim: Nabila Pradipta
Tanggalnya: tiga hari sebelum acara wisuda.
Aku langsung menoleh. “Kamu nggak pernah buka email ini?”
Wajah Gavin menegang. “Aku berangkat sehari setelah acara wisuda Nabila. Hari-hariku kacau banget, urusan visa, studio, tiket, dan…” dia berhenti sejenak, “…gosip tentang Nabila udah menyebar kemana-mana. Perasaanku campur aduk waktu itu.”
Kalimat itu pahit, tetapi manusiawi. Kadang orang pergi bukan karena tidak peduli, tetapi mereka pergi karena terlalu takut dilukai.
Aku membuka email itu. Isinya singkat.
Vin,
aku nggak tahu harus cerita ke siapa.
kalau kamu baca ini, berarti aku masih belum berani ngomong ke siapa-siapa.
aku simpan beberapa bukti di folder dan link g-drive di bawah.
kalau suatu hari aku nggak bisa jelasin apa-apa,
tolong jangan biarkan mereka bilang ini salahku semua.