Setelah malam ketika nama Satria diungkap, kupikir kepalaku akan lebih tenang. Ternyata tidak. Ada jenis lelah yang justru datang setelah satu simpul mulai terbuka. Bukan karena masalahnya mulai menemukan titik terang, melainkan tubuh yang akhirnya sadar betapa lama ia menahan semuanya.
Pagi datang, mengembalikanku pada rutinitas di Vinella. Tidak ada yang istimewa. Hanya aroma mentega dari oven di belakang dan lalu lalang pelanggan yang tidak terlalu ramai. Chiffon Pandan batch dua baru saja diletakkan Elen di etalase ketika Gavin datang, berdiri di dekat rak roti dengan kemeja biru lengan panjang yang digulung sampai siku. Kehadirannya selalu punya cara untuk tidak terasa mengganggu ritme tempat ini, seolah dia tahu bagaimana masuk ke ruang orang lain tanpa membuat apa pun bergeser terlalu keras.
“Ayo makan siang, Nay.” katanya. Sesederhana itu.
Aku menatap jam dinding, lalu daftar pesanan yang tersisa. “Masih jam kerja.”
Gavin melirik Bian yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku. Sepertinya dia hanya pura-pura merapikan display croissant yang masih tertata rapi. “Bosmu tidak kelihatan strict sama jam kerja.”
Bian langsung mengangkat dua tangan. “Pergi aja, Nay. Sekali-kali makan siang yang bener, jangan kopi sama pastry sisa terus.”
Aku tertawa kecil. Sudah lama sekali aku tidak pergi makan siang tanpa rasa bersalah.
Kami makan di warung pasta dua ruko dari Vinella. Tidak ada pembicaraan berat. Gavin hanya mengajakku bicara tentang hal-hal sederhana. Kamera analog yang sedang dicarinya, kopi kampus yang dulu selalu saja terlalu pahit, dan cerita petualangannya mengejar sunset di pantai-pantai sepanjang pesisir Australia. Caranya bercerita terdengar santai, seolah negeri sejauh itu hanyalah jeda panjang yang belum benar-benar selesai.
Aku baru sadar betapa ringan tubuhku saat tertawa tanpa harus menjelaskan apa-apa. Tidak ada pertanyaan yang memaksaku memilih kalimat agar tidak menjadi salah paham yang berujung panjang. Tidak ada nada yang membuat setiap jawabanku terdengar seperti pembelaan. Hanya ruang yang cukup untuk bernapas.
Saat kembali ke Vinella, Elen langsung menyipitkan mata sambil tersenyum penuh makna. Bian tersipu-sipu dengan lirikan mata yang membuatku merasa jengah.
Kupasang apron sebelum beranjak ke meja kasir. “Kalian kenapa?”
“Gapapa,” kata Elen masih tersenyum, gesturnya jelas menunjukkan ada apa-apa.
Bian ikut mendekat sambil membawa tray cinnamon roll. “Lo beda, Nay.”
Aku menoleh. “Beda gimana?”
Elen menatapku cukup lama. “Senyumnya lebih lepas.”
Tanganku berhenti di tali apron. Bian menyandarkan siku ke meja kasir. “Gue jadi ngerti kenapa Wildan marah, kecemburuannya nggak sepenuhnya salah, Nay.”
Kalimat itu membuat kepalaku terangkat cepat. “Maksud lo?”
“Bukan karena Gavin ngapa-ngapain,” katanya hati-hati. “Tapi tiap dia datang, lo langsung berubah jadi versi diri lo yang lebih gampang ketawa.”
Elen mengangguk setuju. “Padahal kalian baru kenal, Nay. Tapi kelihatan banget kalau lo udah nyaman.”
Nyaman. Kata itu seperti bunyi sendok kecil yang tiba-tiba jatuh di ruangan sepi.
Aku ingin bilang ini hanya soal kasus Nabila. Soal seseorang yang kebetulan membantu menyusun puzzle-puzzle kejadian secara terstruktur. Soal teman lama yang datang di waktu yang tepat. Tetapi ketika otakku mengingat makan siang tadi, caraku tertawa tanpa merasa bersalah, cara kepalaku tidak terus berjaga, dan caraku bercerita apa saja tanpa perlu terlihat mengada-ada. Rasanya memang ada yang berbeda.
Bian menurunkan suara. “Kadang yang bikin orang cemburu bukan orangnya. Tapi perubahan yang dia bawa.”