Setelah percakapanku dengan Wildan malam itu, aku mengira kepalaku akan dipenuhi rasa bersalah. Aneh, yang datang justru sebaliknya. Bukan karena kata-katanya tidak melukai, tetapi karena untuk pertama kalinya dia menyadari ada yang perlu diperbaiki dari hubungan kami. Meski rasanya terlalu terlambat. Ada ruang di dalam diriku yang sudah terlanjut bergeser. Dan pagi berikutnya, ruang itu kembali bergerak saat ponselku berbunyi.
Gavin.
Aku ketemu satu petunjuk dari timeline surat konseling. Bisa ketemu?
Aku menatap pesan itu cukup lama. Jantungku berdegup tidak beraturan setelahnya. Kalau beberapa minggu lalu aku masih bisa berpura-pura semua ini hanya soal Nabila, sekarang aku tahu ada sesuatu yang lebih dari itu.
Kami bertemu di perpustakaan kampus selepas waktu ashar, di lantai dua yang jarang dipakai mahasiswa karena rak-raknya berisi skripsi usang dan jurnal yang halaman depannya mulai menguning.
Gavin sudah duduk di meja dekat jendela saat aku datang. Laptopnya terbuka.
Di sampingnya ada dua kopi botolan dan setumpuk fotokopi dokumen. Dia selalu datang dengan segala sesuatu yang terasa sudah dipikirkan.
“Aku cocokkan tanggal surat konseling Nabila sama log penggunaan ruang dosen yang masih tersimpan di database inventaris fakultas,” katanya tanpa banyak pembuka.
Aku duduk di seberangnya. “Masih ada?”
Dia memutar laptop ke arahku. Di layar ada tabel peminjaman ruang bimbingan, catatan akses kunci cadangan, dan satu nama yang membuat napasku tertahan.
Dr. A. Satria, M.Si. — Ruang Konsultasi 4B
Tanggalnya sama dengan minggu ketika kondisi Nabila mulai berubah drastis. Bukan bukti besar. Hanya jejak sistem yang menempel pada pola runtuhnya seorang perempuan bernama Nabila.