Aku ijin datang siang, Vinella di hari kamis biasanya baru ramai menjelang malam. Bian tahu, Elen mampu meng-handle pekerjaanku. Dia malah sempat menawarkanku untuk cuti saja. Aku menolaknya karena segan. Mereka sudah terlalu banyak memberi ruang gerak padaku.
Aku kembali mendatangi kampus. Tepatnya ke klinik psikologi kampus. Gedungnya kecil, cat putihnya mulai kusam, dan lorong depannya berbau campuran disinfektan serta kertas lama. Tempat seperti ini selalu membuatku berpikir betapa rapi sistem menyimpan hal-hal yang paling menghancurkan hidup seseorang.
Gavin berjalan di sampingku. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat langkahku punya ritme. Kami sudah menyiapkan alasan yang paling masuk akal. Permintaan salinan arsip sesi lama untuk kebutuhan investigasi etik keluarga.
Staf administrasi, seorang perempuan paruh baya bernama Nina, memeriksa surat permohonan yang kami bawa cukup lama.
“Data lama belum tentu lengkap,” katanya.
Aku mengangguk. “Yang penting kami tahu apa yang masih tersisa.”
Dia menghilang ke ruang arsip belakang.
Menunggu selalu punya cara aneh untuk memperjelas isi kepala. Aku duduk di kursi tunggu, sementara Gavin berdiri di dekat dispenser, memainkan tutup botol tanpa suara.
Aneh sekali, di sela-sela momen yang seharusnya hanya tentang Nabila, pikiranku justru kembali pada percakapan dengan Wildan, lalu pada momen di perpustakaan kemarin, dan melompat pada siang di warung pasta ketika aku bisa tertawa ringan bersama lelaki dari masa lalu Nabila.
Bu Nina kembali membawa map tipis berwarna hijau pudar. “Ini yang masih ada.”
Tanganku terasa dingin saat menerimanya. Di dalam map itu ada dua lembar form asesmen awal, satu surat rujukan psikiater, dan selembar catatan sesi yang hanya ditulis singkat.
Baris ketiganya membuat seluruh tubuhku terhenti.
Pasien menunjukkan respons takut saat diminta kembali ke ruang konsultasi dosen pembimbing. Menolak menyebut nama, hanya berulang kali mengatakan “ruangan dikunci.”
Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi.