Malamnya rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap suara seolah tahu sedang menuju apa.
Ibu melipat baju di ruang tengah dengan gerakan lambat. Televisi menyala tanpa volume. Najwa belajar di meja kecil sambil sesekali menguap. Dari kamar, terdengar suara mesin nebulizer Nabila yang ritmenya sudah menjadi bagian dari napas rumah ini.
Di meja makan, map klinik kampus masih terbuka. Catatan awal psikolog menjadi lembar pertama yang terlihat setelah selama ini tertutup rapat dalam kotak pandora.
Pintu pagar depan berbunyi. Wildan datang tanpa mengirim pesan terlebih dulu. Dia masuk dengan langkah pelan, seperti tahu rumah ini sedang menjaga sesuatu yang rapuh.
“Sorry, aku datang kemaleman,” katanya lalu duduk di depanku tanpa menunggu kupersilakan. Matanya langsung jatuh pada map yang masih terbuka.
“Ini yang dari klinik kampus?”
Aku mengangguk. Wildan membaca beberapa detik, cukup lama untuk memahami arah kasus kini sudah semakin terang.
“Kalau ini dibuka lagi sampai jalur hukum,” ujarnya pelan, “nama keluarga kamu akan dibahas dimana-mana.”
Kalimat itu tidak terdengar mengancam. Lebih seperti suara seseorang yang melihat risiko dengan cara paling realistis. Aku menatap map di depanku.
Nama Ayah seperti muncul begitu saja di sela kertas-kertas itu.
Ayah yang memukul Satria. Ayah yang dipenjara. Ayah yang sejak itu menjadi pusat bisik-bisik tetangga. Ayah yang membuat Opay pergi dari rumah. Ayah yang membuat Ibu berhenti bicara tentang kekerasan yang dialami Nabila. Ayah yang meninggalkan kami dengan bentuk marah yang diwariskan ke setiap sudut rumah.