Aku datang ke kampus pagi-pagi sekali. Udara masih menyimpan sisa dingin semalam, dan halaman fakultas belum penuh mahasiswa. Hanya beberapa orang berjalan cepat dengan kopi kertas di tangan, wajah-wajah yang terlihat terlalu muda untuk tahu bahwa gedung tempat mereka belajar juga bisa menyimpan jenis luka yang tidak pernah masuk kurikulum mereka.
Di tanganku ada map cokelat berisi semua yang berhasil kami kumpulkan. Ada salinan surat konseling, email lama Nabila, komentar revisi skripsi dari dosen bernama Satria, catatan tangan dari map arsip, dan file digital yang sudah kususun semalaman.
Hari ini aku akan mengajukan pengaduan etik resmi sebelum nanti kami bawa ke jalur hukum. Wildan datang menjemputku pagi tadi, tepat seperti janjinya. Namun begitu kami tiba di gerbang kampus, aku melihat Gavin sudah lebih dulu menunggu di bawah pohon trembesi dekat parkiran. Kamera tergantung di bahunya, tas laptop di punggung, dan ekspresi tenang yang belakangan terasa terlalu mudah membuatku nyaman.
Aku melihat rahang Wildan mengeras tipis.
Bukan ekspresi marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang sejak lama ia takutkan ternyata benar-benar ada.
“Kamu ngajak dia juga?” tanyanya sambil mematikan mesin mobil.
Nada suaranya datar, tetapi aku tahu nada datar sering lebih jujur daripada nada tinggi. “Aku bilang kita berangkat pagi. Dia inisiatif datang duluan.”
Wildan tertawa sumbang. “Inisiatif ya?”
Aku tidak menjawab. Kadang aku terlalu lelah membedakan mana kekhawatiran yang layak dijelaskan dan mana yang sebenarnya lahir dari rasa terancam.
Di ruang tunggu komite etik, kursi-kursi tersusun rapi menghadap meja resepsionis. Tidak ada siapa-siapa selain seorang staf administrasi yang meminta kami menunggu karena Dr. Ratna sedang rapat.