Siluet

Tri Wahyuningsih
Chapter #20

Pulang

Ruangan komite etik ternyata lebih kecil daripada yang kubayangkan selama ini. Entah kenapa, selama berhari-hari aku selalu membayangkannya seperti ruang sidang. Besar, dingin, penuh suara-suara penting. Kenyataannya hanya meja panjang, empat kursi, lemari arsip, dan pendingin ruangan yang mendengung terlalu keras.

Di depanku, Dr. Ratna membuka map cokelat yang kubawa. Semua yang selama ini kami kumpulkan ada di sana. Kronologi yang pada beberapa bagian terasa terlalu rapi untuk sesuatu yang selama tujuh tahun hidup sebagai luka.

Aku duduk sendirian di seberangnya. Wildan dan Gavin menunggu di luar. Mungkin memang seharusnya begitu. Untuk keputusan seperti ini, pada akhirnya yang dibutuhkan bukan banyak suara, melainkan satu suara yang benar-benar siap menanggung akibatnya.

Dr. Ratna membaca cukup lama. Dia membalik halaman demi halaman dengan wajah yang sulit kutebak. Sesekali dia memberi penanda kecil pada beberapa bagian, terutama catatan psikolog kampus dan nama Dr. A. Satria, SE. M.Si. yang muncul dalam surat rujukan.

Aku menunggu dengan telapak tangan dingin di pangkuan. Rasanya aneh. Selama ini aku sibuk mengejar bukti, mengejar petunjuk, mengejar arah. Tetapi saat semuanya akhirnya sampai di meja resmi, justru yang datang bukan lega. Melainkan takut.

Takut kalau semua ini ternyata masih belum cukup. Takut kalau sistem tetap menemukan cara untuk meragukan kesaksian tubuh perempuan. Takut kalau Nabila dikembalikan pada ruang yang dulu menghancurkannya.

Akhirnya dr. Ratna menutup map itu. Dia menatapku cukup lama sebelum berkata,

“Secara prosedural, ini cukup untuk membuka investigasi etik formal, kami akan mengirimkan surat pemanggilan ke Doktor Satria.”

Aku mengembuskan napas perlahan. Bukan napas lega. Lebih seperti tubuh yang akhirnya diizinkan berhenti siaga.

“Prosesnya tidak akan cepat,” lanjutnya. “karena setelah memanggil pihak-pihak terkait, membuka kembali arsip konsultasi kampus, dan memeriksa dokumen bimbingan lama, kami juga harus mengajukan laporan ke yayasan.”

Aku mengangguk. Cepat atau lambat tidak lagi terasa penting. Kami sudah terlalu lama hidup dalam waktu yang tertahan.

Sebelum aku berdiri, dr. Ratna berkata lagi, lebih pelan kali ini. “Yang paling penting dari pengaduan seperti ini bukan hanya hasil akhirnya.”

Aku menoleh. “Tetapi korban sekarang punya ruang yang percaya.”

Kalimat itu tinggal di pikiranku sampai aku keluar dari ruangan. Bukan ruang yang percaya. Bukan keluarga yang percaya. Tetapi ruang yang sah. Ruang yang bisa membersihkan nama Nabila.

Koridor terasa lebih terang. Wildan langsung berdiri dari kursinya saat melihatku keluar. Namun sebelum sempat bicara, mataku lebih dulu menangkap sosok Gavin di ujung lorong. Dia berdiri bersandar pada dinding putih, laptopnya sudah dimasukkan ke dalam tas ransel, wajahnya tenang seperti biasa. Tidak mondar-mandir. Tidak gelisah. Hanya menunggu, seolah dia tahu beberapa keputusan memang membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk pulangnya sendiri.

“Diterima,” kataku. Wildan mengembuskan napas panjang.

“Syukurlah, kita bisa pulang untuk menyusun langkah selanjutnya. Paralel kita bisa laporkan ke pihak berwenang supaya dosen mesum itu tidak bisa lari lagi dari tanggung jawab hukum.” Kalimat panjang lebar dari Wildan justru membuat kepalaku terasa pening. Aku belum memikirkannya sejauh itu.

Di luar ruang tunggu, Gavin menatapku beberapa detik, lalu mengangguk kecil dan beranjak pergi. Tatapan itu sederhana, tetapi justru di sanalah ada sesuatu yang selama ini tidak pernah berhasil kubohongi. Aku selalu merasa lebih utuh saat dia berada di sekitar kekacauan pikiranku.

Lihat selengkapnya