Simbiosis Terlarang

G Wira Negara
Chapter #1

Chapter 1: Dunia tanpa godaan

BAB 1: Dunia Tanpa Godaan


​Langit Jakarta pagi itu tidak lagi menyajikan jelaga hitam yang biasanya menyesakkan dada. Sebaliknya, udara terasa begitu murni, seolah-olah seluruh partikel karbon dioksida telah bertobat dan berubah menjadi oksigen yang paling suci. Bara berdiri di balkon kantornya di Kementerian Agama, menatap kerumunan manusia di bawah sana yang bergerak dalam ritme yang tidak wajar. Tidak ada suara klakson yang saling bersahut-sahutan karena amarah. Tidak ada makian antar-pengemudi ojek daring. Dunia, dalam semalam, telah kehilangan denyut agresivitasnya.

​Sebagai seorang Teolog yang menghabiskan dua dekade mendalami eskatologi dan demonologi, Bara merasakan ada sesuatu yang sangat keliru dalam ketenangan ini. Jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk sampul kulit sebuah manuskrip kuno tentang Ars Goetia[1]. Logikanya yang tajam mulai membedah fenomena ini bukan sebagai mukjizat, melainkan sebagai anomali teologis yang berbahaya.

"Ini bukan kesalehan," bisik Bara pada angin yang berhembus terlalu lembut. "Ini adalah kekosongan eksistensial."

​Layar monitor di belakangnya menampilkan laporan real-time dari berbagai belahan dunia dimana tingkat kriminalitas mencapai angka di titik yang sangat rendah. Di penjara-penjara dengan keamanan tingkat tinggi, para narapidana menyerahkan senjata rahasia mereka dan mulai saling membasuh kaki. Para koruptor yang selama puluhan tahun menyembunyikan aset di negara suaka, tiba-tiba membanjiri kantor otoritas pajak untuk mengembalikan setiap rupiah yang mereka curi.

​Secara sosiopolitik[2], ini adalah utopia[3]. Namun bagi Bara, ini adalah tanda bahwa Raja kegelapan dan pasukannya sedang melakukan aksi menghentikan godaan. Tanpa adanya tentatio[4]—godaan—manusia tidak lagi memiliki daya juang spiritual. Kebaikan yang terjadi saat ini hanyalah hasil dari hilangnya dorongan jahat, sebuah kebaikan pasif yang tidak memiliki nilai moral karena tidak lahir dari pilihan bebas untuk melawan kegelapan.

​Bara meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam pahit itu sambil mencoba menganalisis "Dunia Tanpa Godaan" ini melalui lensa literasi teologis yang ia miliki. Jika Iblis—sang katalis wajib—memilih untuk berhenti, maka seluruh struktur agama akan runtuh. Kitab suci akan menjadi artefak yang kehilangan konteksnya karena tidak ada lagi musuh yang harus dilawan, tidak ada lagi nafsu yang harus dijinakkan.

​Ia teringat pada argumen dalam dokumen rahasia yang pernah ia pelajari tentang sekte kegelapan, bahwa Surga dan Neraka adalah dualitas yang saling mengunci. Tanpa adanya dialektika antara yang kudus[5] dan yang profan[6], manusia akan terjebak dalam delusi kedamaian yang statis.

"Jika tidak ada yang berdosa, maka tidak ada yang perlu bertobat. Dan tanpa tobat, esensi dari pemahaman Surga itu sendiri akan menguap," pikir Bara dengan perasaan ngeri yang mulai merayap di tengkuknya.

​Keadaan damai ini membuat rumah-rumah ibadah di seluruh Jakarta mulai terlihat sunyi. Bukan karena orang-orang meninggalkan Tuhan, tetapi karena mereka merasa sudah "selesai" dengan urusan moralitas. Mereka merasa suci tanpa melalui ujian api, sebuah kesucian prematur yang justru menjauhkan mereka dari kebutuhan akan perlindungan Tuhan.

​Bara melihat ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan. Ambisi, kompetisi, dan keinginan untuk memiliki lebih dari orang lain—yang selama ini digerakkan oleh ego dan rasa iri—tiba-tiba lenyap. Manusia menjadi makhluk yang terlalu pasif. Dimana 95% daya saing global hilang begitu saja karena manusia kehilangan naluri kompetitifnya yang primal.

​Sebagai pria yang berusia 45 tahun dengan jam terbang investigasi yang telah melintasi benua, Bara Wijaya tahu bahwa ini adalah fase awal dari sebuah jebakan besar. Iblis tidak sedang kalah; Iblis sedang menciptakan kekacauan jenis baru melalui ketiadaan. Sebuah kejahatan yang tidak lagi menggunakan bisikan, melainkan menggunakan keheningan untuk melumpuhkan jiwa manusia.

​Bara berjalan menuju meja kerjanya, membuka peta dunia digital dan mulai menandai titik-titik koordinat yang pernah ia curigai sebagai episentrum energi kegelapan. Pikirannya bekerja secara lateral, menghubungkan titik-titik antara dokumen dunia tentang entitas metafisika dan realitas absurd yang sedang ia saksikan.

​Ia harus menemukan sang antagonis utama. Ia harus mencari tahu mengapa sang Raja Kegelapan memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Karena dalam logika Bara yang provokatif, dunia ini justru membutuhkan Iblis agar manusia tahu caranya menjadi manusia kembali.

"Engkau sedang bermain peran apa, wahai Musuh yang Licin?" Bara bergumam sambil menatap layar yang menunjukkan jalanan San Ramon, California, salah satu titik yang mulai menunjukkan anomali energi yang unik dalam radarnya.

​Hari tanpa dosa ini baru saja dimulai, namun bagi Bara, ini adalah awal dari kiamat spiritual yang paling sunyi dalam sejarah peradaban. Ia tahu, ia harus segera bergerak sebelum manusia benar-benar lupa bagaimana caranya memohon ampun kepada Penciptanya.

Lihat selengkapnya