Simbiosis Terlarang

G Wira Negara
Chapter #2

Chapter 2: Inersia Moral

BAB 2: Inersia[14] Moral


Pesawat jet pribadi Gulfstream G650 milik Sekretariat Negara membelah langit Samudra Pasifik dengan keheningan yang tidak wajar setelah mendapatkan ijin masuk di wilayah teritori udara California. Di dalam kabin yang mewah namun terasa sesak oleh kecemasan, Bara Wijaya duduk terpaku menatap layar monitor yang menampilkan grafik sosiometrik global. Di sampingnya, Margaretha Amalia sibuk dengan tablet transparan, sementara Toni Sucipto memeriksa magasin senjatanya dengan tatapan mata yang sedikit kosong—sebuah tanda bahwa virus "keheningan" ini mulai menggerogoti naluri bertarung sang ajudan yang biasanya setajam silet.

"Bara, kau harus melihat data transmisi dari bursa London dan New York," suara Margaretha memecah kesunyian, terdengar datar seolah emosinya telah terkikis oleh atmosfer dunia yang mendadak hambar. "Indeks Hang Seng, Nikkei, dan Dow Jones telah resmi dihapus dari papan perdagangan digital. Bukan karena krisis moneter atau kejatuhan harga saham, tapi karena tidak ada lagi entitas yang ingin melakukan transaksi. Motif laba telah mati, Bara. Secara klinis, kapitalisme telah berhenti bernapas."

​Bara mengalihkan pandangannya dari jendela kabin yang memperlihatkan gumpalan awan putih yang terlalu statis. Ia menyesap kopi pahitnya, mencoba mencari sisa-sisa rasa di lidahnya yang mulai terasa tumpul akibat pengaruh lingkungan yang terlalu steril.

"Tentu saja mati, Amalia. Kapitalisme adalah manifestasi dari rasa haus yang tidak pernah puas—sebuah turunan sosiologis dari nafsu greed atau keserakahan. Jika Iblis menarik bisikannya dari telinga para pialang, maka mesin-mesin keserakahan itu kehilangan bahan bakar utamanya. Yang tersisa hanyalah inersia. Manusia tidak lagi merasa butuh untuk menimbun, karena rasa takut akan kekurangan telah dicabut dari sirkuit saraf mereka."

Bara membuka sebuah folder fisik berisi naskah fotokopi dari Codex Gigas[15] dan beberapa fragmen gulungan Laut Mati yang telah ia beri catatan kaki dengan tinta merah yang tajam. Logikanya mulai menelusuri lorong-lorong gelap pemikiran Saint Augustine mengenai Civitas Dei —Kota Tuhan dan konsep Nafs Ammarah dalam literatur tasawuf yang pernah ia pelajari di pesantren tua di Jawa Timur.

"Masalahnya, Amalia," Bara berkata sambil mengetuk naskah itu dengan jemarinya yang panjang, "saat ini manusia tidak sedang berjalan menuju Tuhan. Mereka berhenti di tengah jalan dan mendeklarasikan bahwa mereka sudah sampai secara otomatis. Ini yang saya sebut sebagai 'Prematuritas Eskatologis'. Mereka menikmati hasil akhir tanpa melewati proses al-mujahadah—perjuangan melawan diri sendiri. Ini adalah penipuan terbesar dalam sejarah iman."

​Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kabin pesawat yang sempit namun elegan. Kecerdasannya yang analitis mencoba membedah apa yang terjadi di gereja, masjid, dan sinagoga di seluruh dunia. Laporan intelijen dari agen-agen Kementerian Agama di lapangan menunjukkan bahwa ritual ibadah kini hanya menjadi gerakan mekanis tanpa ruh. Tidak ada lagi air mata pertobatan yang membasahi sajadah, tidak ada lagi bisikan pengakuan dosa yang tulus di bilik gereja. Manusia merasa tidak perlu lagi mengetuk pintu Tuhan karena mereka merasa sudah berada di dalam dekapan-Nya tanpa syarat.

​"Tuhan menciptakan dualitas agar ada ritme, Amalia. Ada fujur[16] dan ada taqwa[17]. Iblis dan Tuhan—dalam konteks drama kosmik—adalah kutub yang memastikan ada tegangan dalam kabel kehidupan. Sekarang, salah satu kutubnya dicabut secara sepihak. Kabel itu putus. Listrik eksistensi tidak lagi mengalir, dan kita semua sedang menuju ke arah kematian spiritual."

Lihat selengkapnya