BAB 3: Diantara intrik dan pertaruhan
Kendaraan SUV hitam yang membawa Bara, Toni, dan Margaretha meluncur membelah jalanan San Ramon menuju arah timur laut, mendekati kaki perbukitan Las Trampas. Kota ini, yang biasanya menjadi simbol kemapanan kelas menengah California dengan deretan pohon palem dan taman yang presisi, kini tampak seperti diorama raksasa yang membeku dalam waktu. Tidak ada suara anjing yang menggonggong, tidak ada dengung mesin pemotong rumput, bahkan angin pun seolah enggan menggerakkan dedaunan oak yang kaku. Semuanya statis, seolah-olah realitas di sini sedang ditahan oleh sebuah tangan gaib yang tak kasat mata.
Bara duduk di kursi belakang, jemarinya terus mengelus permukaan batu safir yang kian berdenyut liar di telapak tangannya. Resonansi batu itu kini menghasilkan frekuensi rendah yang tidak lagi sekadar getaran, melainkan suara desis halus yang merayap masuk ke sumsum tulangnya. Ia sedang melakukan pemetaan mental, menghubungkan titik-titik anomali dengan literatur eskatologi yang ia hafal di luar kepala.
Di kursi pengemudi, Toni tampak sangat berbeda dari biasanya. Pria yang pernah bertahan hidup di hutan Papua dan menghadapi gempuran peluru di konflik Timur Tengah itu kini menunjukkan tanda-tanda degradasi mental yang mengkhawatirkan. Genggamannya pada kemudi melonggar, matanya yang biasanya tajam seperti elang kini tampak berkabut, terselimuti oleh rasa hening yang melumpuhkan—sebuah virus kematian yang perlahan menghapus insting predatornya.
"Pak Bara..." suara Toni terdengar sangat pelan, hampir seperti gumaman orang yang sedang mengigau. "Kenapa kita harus mengusik ini semua? Lihatlah di luar sana. Tidak ada darah, tidak ada air mata. Jika dunia bisa seindah ini selamanya, bukankah misi kita ini justru sebuah kejahatan?"
Bara menatap punggung Toni melalui spion tengah. Ia tahu, jika ia membiarkan keraguan ini tumbuh, Toni akan hancur sebelum mereka sampai di dermaga. Ia harus memberikan "bantuan moral" yang keras, sebuah suntikan realitas untuk membangunkan jiwa prajurit pria itu yang hampir tertidur.
"Toni, dengarkan aku," Bara memajukan tubuhnya, memberikan tekanan pada suaranya hingga terdengar seperti dentum lonceng di kabin yang sunyi. "Kedamaian yang kau lihat di luar sana bukanlah ketenangan surga. Itu adalah stagnasi. Seperti air yang tidak mengalir, ia akan menjadi sarang penyakit. Kau merasa damai bukan karena kau telah menjadi orang suci, tapi karena kau sedang dikosongkan dari kemanusiaanmu. Manusia tanpa gairah bertarung adalah mayat yang hanya bisa bernapas."
Bara meraih tengkuk Toni, menekan titik saraf Hegu[19] dengan keras hingga Toni tersentak kecil. "Ingat istrimu. Ingat anakmu yang kau besarkan dengan susah payah. Kau mencintai mereka karena kau pernah takut kehilangan mereka. Tanpa rasa takut, tanpa konflik, cinta pun hanya akan menjadi data statistik yang tawar. Kita bergerak bukan untuk menciptakan peperangan, tapi untuk merebut kembali hak manusia untuk memilih antara benar dan salah. Jangan biarkan 'dia' mencuri kehendak bebasmu bahkan sebelum kita bertatap muka."
Toni menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang berat dan penuh perjuangan. Kilatan di matanya kembali meski hanya sedikit. "Terima kasih, Pak. Saya... saya hampir lupa siapa saya."
Margaretha Amalia, yang sejak tadi terdiam, terus memantau tablet transparannya. Wajahnya pucat pasi saat melihat data yang masuk. "Pak Bara, frekuensi ionosfer di atas Las Trampas sudah tidak bisa dibaca dengan logika fisika. Spektrum warnanya bergeser ke arah infra-hitam—sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam spektrum cahaya tampak. Dan... ada penumpukan muatan energi negatif yang luar biasa besar di atmosfer. Seolah-olah langit sedang menahan amarah yang tidak tersalurkan."
Bara mengangguk perlahan. Ia membuka kembali naskah The Great Strike[20] yang ia simpan dalam memori tabletnya. "Itu adalah efek dari 'berhentinya' sang Katalis, Amalia. Selama puluhan ribu tahun, kegelapan bertindak sebagai katup pelepas bagi energi ego manusia. Sekarang, katup itu ditutup rapat. Energi itu menumpuk menjadi bom waktu secara spiritual. Logikanya dimana langit tidak lagi mengirimkan rahmat[21] kepada manusia, karena tidak ada lagi doa yang lahir dari penderitaan. Dunia sedang menuju Kiamat yang sangat hening."
Bara menjelaskan dengan analogi nya tentang konsep Malakut[22] yang sedang mengalami disrupsi pelaksanaan. Ia menggambarkan dimana para malaikat yang akan kebingungan di langit karena tidak ada lagi laporan tentang dosa atau kesalahan manusia yang mereka kumpulkan, dan di sisi lain, tidak ada amal atau perbuatan yang memiliki nilai karena tidak ada ujian yang dilewati. Semuanya menjadi hambar. Kosong.