BAB 4: Ketegangan dalam
gangguan psikis
Hujan abu perak di atas Danau Trampas kian menderas, menyelimuti dermaga kayu yang mulai mengeluarkan suara retakan halus akibat tekanan metafisika yang ekstrem. Di tengah anomali cuaca yang menentang seluruh hukum fisika ini, Bara Wijaya berdiri tegak. Ia membiarkan butiran abu panas itu menyentuh pakaiannya hingga mengeluarkan asap tipis yang berbau seperti belerag. Di hadapannya, Sang Raja Kegelapan—dalam wujud pria pemancing yang terlihat santai—menatapnya dengan dua lubang hitam di matanya, seolah ia sedang membaca setiap retakan di jiwa Bara.
Bara tahu ini bukan sekadar negosiasi; ini adalah konfrontasi intelektual dengan entitas purba yang telah mengamati kejatuhan setiap imperium besar di bumi. Ia harus waspada, karena satu kesalahan diksi saja bisa berarti kehancuran permanen bagi jiwanya dan masa depan peradaban.
Bara mengaktifkan mikrofon tersembunyi yang tertanam di balik kerah bajunya dengan gerakan lidah yang sangat terlatih, menekan sensor di langit-langit mulutnya untuk memastikan transmisi ke Jakarta tetap aktif. Di dalam SUV, Margaretha harus memastikan enkripsi kuantumnya mampu menembus distorsi elektromagnetik yang diciptakan oleh kehadiran sang Iblis.
"Kau menawarkan jiwamu, Bara?" suara sang Iblis mengalun, kali ini lebih berat dan bergema di dalam rongga dada Bara, bukan di telinganya. "Jiwamu adalah harga yang terlalu murah untuk sebuah kiamat yang sudah tertata dengan begitu rapi dan indah ini. Mengapa aku harus repot-repot menyela istirahat ku hanya untuk satu Teolog kecil yang merasa dirinya pahlawan?"
Bara menarik napas dalam, merasakan udara yang terasa lengket di paru-parunya. "Karena kau bosan," ucap Bara, suaranya tajam dan tanpa getaran. "Kau berhenti menggoda manusia bukan karena kau menyerah kalah kepada Tuhan, tapi karena kau merasa manusia sudah tidak layak digoda. Kau merasa kami sudah menjadi produk gagal yang terlalu mudah diprediksi. Tapi kau lupa satu hal, wahai Sang Raja Kegelapan dimana manusia diciptakan dengan satu elemen yang tidak pernah bisa kau miliki, yaitu ketidakterdugaan yang lahir dari rasa sakit dan cinta yang membelenggu dan menyakitkan."
Iblis itu tertawa—sebuah suara yang terdengar seperti ribuan jeritan yang disatukan menjadi simfoni yang harmonis namun merusak. "Ketidakterdugaan? Kalian hanyalah sekumpulan daging dan saraf yang bereaksi terhadap rangsangan kimiawi. Sekarang, tanpa rangsangan kegelapan dariku, kalian hanyalah tanaman yang menunggu layu di taman yang membosankan. Tidak ada intrik yang menarik di sini, Bara. Hanya kebenaran yang hambar."
"Kalau begitu, mari kita buat intrik itu menjadi lebih menarik kembali," balas Bara cepat, matanya mengunci arah dagu pria itu. "Aku menantangmu untuk menyaksikan investigasiku secara langsung. Jangan hanya menonton dari balik bayangan. Jadilah saksi bagaimana aku akan memancing keluar kegelapan dari balik topeng kedamaian palsu yang kau ciptakan ini. Aku akan membuktikan bahwa tanpa bisikanmu pun, manusia memiliki potensi untuk menghancurkan surga semu ini. Dan jika aku berhasil, kau harus kembali menjadi Raja kegelapan."
Melalui sistem konduksi tulang yang tersembunyi di belakang telinganya, Bara mendengar napas Margaretha yang memburu dan detak jantung Toni yang tidak beraturan. Ia menyadari timnya berada di titik nadir mentalitas mereka. Sambil tetap menjaga posisi tubuhnya di depan Iblis, Bara mengirimkan instruksi melalui pola ketukan jari di atas batu safir hitam yang ia pegang—sebuah kode morse taktis agar mereka tetap bisa berkomunikasi tanpa harus terdeteksi oleh Iblis.
Ketuk... ketuk... jeda... ketuk. Amalia, kunci frekuensi ini. Gunakan kode untuk menangkap setiap suara. Jangan biarkan sinyal terputus sedikitpun.
Ketuk... jeda... ketuk... ketuk. Dan Toni, bersiap untuk evakuasi tingkat ekstrem. Jaga mesin tetap menyala, tapi jangan bertindak yang mencurigakan.
Bara sadar bahwa Iblis mungkin mengetahui siasat ini, namun keangkuhan entitas purba ini biasanya menjadi celah. Iblis ingin melihat Bara berjuang; ia ingin melihat manusia paling cerdas ini merangkak dalam keputusasaan yang intelektual.
"Toni, Amalia," bisik Bara melalui mikrofon sub-vokal yang hanya bisa didengar oleh timnya, "Apapun yang kalian dengar nanti, jangan lepaskan penutup telinga kalian. Dia akan mencoba masuk melalui frekuensi infrasubuh[23] yang bisa memicu keinginan untuk bunuh diri secara instan. Tetap fokus pada instrumen. Kalian adalah saksi sejarah yang tidak boleh kalah."
Iblis itu melangkah maju, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka. Bau belerang, buku lama yang membusuk, dan aroma kematian memenuhi indra penciuman Bara. "Kau ingin aku ikut bersamamu? Ke Jakarta? Ke pusat birokrasi yang penuh dengan kemunafikan itu? Itu adalah permintaan yang sangat... kurang ajar, sekaligus menarik."
"Tentu," ucap Bara tanpa ragu. "Jadilah saksi hidup. Jika aku berhasil menemukan satu tindakan dosa murni—sebuah pengkhianatan terhadap kesucian yang lahir murni dari kehendak bebas manusia tanpa campur tanganmu—maka kau harus menghentikan ini semua. Kau harus kembali menjadi sang penggoda yang berisik agar manusia punya lawan untuk bisa menghadapi kalian lagi."
"Dan jika kau gagal?" tanya Iblis, bibirnya membentuk seringai yang memperlihatkan barisan gigi yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata.