BAB 5: Ruang isolasi
Waktu adalah entitas yang relatif, namun di dalam Bunker Hitam Kementerian Agama, ia menjelma menjadi algojo yang dingin. Jam digital di dinding ruang kendali terus merayap turun, membuang detik demi detik dari jatah 168 jam yang dijanjikan. Ruangan itu kini bukan lagi sekadar fasilitas militer bawah tanah; ia telah berubah menjadi zona liminal di mana batas antara kewarasan manusia dan kegilaan primordial melebur menjadi satu.
Di balik kaca tebal yang dilapisi frekuensi ultrasonik, Sang Raja Kegelapan duduk dengan tenang. Kehadirannya tidak lagi sekadar visual, melainkan sebuah tekanan atmosferik yang membuat oksigen terasa berat dan berasa logam. Ia tidak berteriak, ia tidak mengancam, namun setiap helaan napasnya seolah-olah mengirimkan gelombang kejut yang merusak struktur molekul di sekitarnya.
"Pak Bara... aku tidak bisa mengunci gelombang pre-frontal cortex pada satelit," suara Margaretha Amalia pecah, lebih mirip bisikan putus asa daripada laporan teknis. Matanya yang biasanya tajam kini memerah, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam. Jemarinya gemetar di atas papan ketik, mencoba menahan gempuran distorsi melalui bisikan yang mengganggu yang terus dikirimkan oleh kehadiran entitas di ruang sebelah.
Margaretha berada di ambang kolaps. Sejak memasuki hari kedua, Iblis itu mulai melakukan infiltrasi mental yang sangat halus. Ia tidak menyerang dengan gambar-gambar mengerikan, melainkan dengan membisikkan kegagalan-kegagalan terkecil dalam hidup Margaretha—setiap keraguan, setiap luka lama, dan setiap rasa tidak aman yang pernah ia kubur dalam-dalam.
"Jangan dengarkan dia, Amalia," suara Bara terdengar seperti karang di tengah badai. Bara berdiri tepat di belakang kursi Margaretha, meletakkan tangannya yang masih terbalut perban bekas luka kontrak darah ke bahu asistennya itu. "Dia tidak sedang bicara padamu. Dia sedang memproyeksikan ketakutannya sendiri karena melihat kita belum menyerah. Fokus pada titik merah di Jakarta Utara. Jangan biarkan frekuensi suaramu jatuh ke nada minor."
Bara adalah satu-satunya jangkar yang tersisa. Dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi, ia terus menjaga ritme kerja di dalam bunker tersebut. Ia tahu bahwa kelelahan adalah celah terbesar yang diinginkan Iblis. Bara sendiri telah memaksakan dirinya untuk tetap terjaga dengan bantuan adrenalin dosis rendah dan meditasi teologis yang ketat. Bagi Bara, ini bukan sekadar pekerjaan; ini adalah dialektika terakhir untuk membuktikan bahwa manusia bukan sekadar algoritma daging.
Di sudut ruangan, Iblis itu tertawa kecil, suara yang merambat melalui lantai beton dan menggetarkan tulang sumsum. "Kasihan sekali, Nona Amalia. Kau menghabiskan hidupmu mempelajari jiwa manusia, hanya untuk menyadari bahwa jiwamu sendiri hanyalah selembar kertas tipis yang siap terbakar oleh satu percikan kebenaran dariku. Mengapa kau bertahan? Lihatlah Baramu itu. Dia tidak peduli padamu. Baginya, kau hanyalah komponen dari instrumen penelitiannya."
Di sebuah lokasi yang dirahasiakan, Kepala Negara duduk di depan deretan layar monitor raksasa. Di sampingnya, beberapa Jenderal berbintang tinggi dan beberapa menteri kepercayaan berkumpul dalam keheningan yang mencekam. Wajah-wajah mereka pucat, diterangi oleh cahaya kebiruan dari kamera pengawas bunker.
"Apa kita benar-benar akan membiarkan ini berlanjut?" bisik Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. "Ini adalah perjudian dengan kedaulatan yang kita sendiri tidak pahami. Bagaimana jika Iblis itu memutuskan untuk keluar dari ruangan itu?"
Kepala Negara tidak menjawab segera. Matanya terpaku pada Bara Wijaya yang sedang menenangkan Margaretha. "Bara telah menegaskan satu hal yaitu jangan libatkan para pemuka agama atau mereka yang merasa ahli dalam teologi formal di sekitar area ini. Dia benar. Apa yang sedang terjadi di bawah sana melampaui retorika doa atau kutipan ayat. Ini adalah konfrontasi eksistensi. Jika kita membawa orang-orang yang hanya bisa bicara tanpa memahami esensi kegelapan, mereka hanya akan menjadi santapan empuk bagi manipulasi sang Raja Kegelapan."
Salah satu Jenderal menambahkan dengan nada rendah, "Bara sedang melakukan pembersihan, Pak. Dia sedang membuang semua 'kebisingan' moral agar dia bisa berhadapan langsung dengan akar masalahnya. Masalah kita sekarang adalah waktu. Jika dalam tujuh hari dia tidak menemukan apa yang dia cari, kita semua akan menjadi budak dari keheningan abadi."
Memasuki hari ketiga, intensitas di luar bunker tidak kalah mengerikannya. Toni Sucipto, dengan tim khususnya, telah menyisir sudut-sudut paling gelap di Jakarta. Kota yang biasanya hiruk pikuk itu kini terasa seperti kota hantu yang bersih, namun di balik kebersihan itu terdapat kekosongan yang mematikan.