SIMFONI DI BALIK BOTOL KACA.

P12
Chapter #1

BAB 1: KELERENG DI TENGGOROKAN


Beberapa orang lahir dengan sendok perak di mulut mereka. Aku? Aku rasa aku lahir dengan sebuah toples kaca yang tersumbat di pangkal leherku.

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku terbangun oleh suara detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Tik. Tok. Tik. Tok. Seolah-olah waktu sedang menghukumku karena satu hari lagi telah datang, dan aku masih tetap sama: seorang gadis yang menyimpan ribuan kalimat di bawah lidahnya, tapi tak satu pun yang berhasil lolos menjadi suara.

Aku bangkit dari tempat tidur, merasakan dinginnya lantai ubin menyentuh telapak kakiku. Di luar jendela, langit masih berwarna ungu memar—warna yang selalu mengingatkanku pada rasa rindu yang tertahan. Aku bercermin. Di sana, ada seorang gadis dengan mata yang terlalu besar untuk wajahnya yang tirus. Namaku Lana. Ibuku bilang, namaku berarti "lembut" atau "terang". Tapi bagiku, namaku adalah sebuah ironi. Bagaimana bisa seseorang menjadi "terang" jika ia terkurung dalam kesunyian yang pekat?

"Lana? Sudah bangun, Sayang?"

Suara Ibu terdengar dari balik pintu, lembut namun ada retakan tipis di ujungnya—jenis suara yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terlalu lama menyimpan harapan yang layu. Aku tidak menyahut. Aku tidak bisa. Sebagai gantinya, aku mengetuk pintu kayu itu dua kali. Tok. Tok. Itu adalah kode kami. Satu ketuk untuk 'Ya', dua ketuk untuk 'Aku di sini', dan keheningan panjang untuk segalanya yang tidak bisa kujelaskan.

Di dapur, aroma kopi mulai menguar. Bagiku, bau kopi adalah warna cokelat tua yang kasar namun hangat. Aku duduk di meja makan, memperhatikan Ibu yang sedang membelakangiku. Pundaknya sedikit merosot. Aku ingin sekali memeluknya dari belakang dan berbisik, "Ibu, jangan khawatir. Aku baik-baik saja di dalam sini. Di dalam kepalaku, aku sedang menyanyi untukmu." Tapi yang kulakukan hanyalah duduk diam, memperhatikan uap yang menari-nari di atas cangkir.

Di dalam kepalaku, kata-kata itu seperti kelereng. Mereka berwarna-warni, licin, dan dingin. Setiap kali aku ingin bicara, kelereng-kelereng itu berebut naik ke tenggorokan. Mereka berdesakan, saling sikut, lalu akhirnya macet tepat di jakun. Rasanya sesak. Kadang aku merasa jika aku tidak segera mengeluarkan satu kata saja, toples di leherku ini akan pecah dan pecahannya akan melukai seluruh dadaku.

Ibu berbalik, meletakkan sepiring roti bakar di depanku. Dia tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Hari ini ada pelajaran menggambar, kan? Jangan lupa bawa krayon barumu," katanya sambil mengelus rambutku.

Lihat selengkapnya