Rumah kami adalah sebuah kotak kayu dan beton yang selalu terasa terlalu luas, meski hanya dihuni oleh dua orang. Di sini, kesunyian bukan lagi sebuah tameng, melainkan tamu tak diundang yang menolak untuk pergi.
Aku pulang sekolah dengan kepala yang masih berdenyut. Sisa-sisa tawa Rian di bus tadi terasa seperti gema yang memantul di dinding tenggorokanku. Begitu kakiku melewati ambang pintu, aku disambut oleh aroma kopi yang sudah mendingin dan bau deterjen. Aroma yang sangat "Ibu".
Aku menemukan Ibu di dapur. Dia sedang duduk di meja makan kayu yang permukaannya sudah mulai mengelupas. Di depannya berserakan lembaran kertas—tagihan listrik, iuran sekolahku yang menunggak, dan selembar brosur berwarna biru pucat dari klinik terapi wicara yang baru.
Ibu tidak menyadari kedatanganku. Bahunya yang biasanya tegar kini tampak melengkung, seperti dahan pohon yang keberatan beban salju. Dan saat itulah aku mendengarnya.
Sebuah isakan.
Itu bukan isakan yang keras. Hanya suara hirupan napas yang pendek dan gemetar, namun bagiku, suara itu lebih memekakkan telinga daripada petir. Ibu sedang menangis, menutupi wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meremas brosur terapi itu hingga lecek.