Sekolah selalu terasa seperti labirin yang dinding-dindingnya terus menyempit setiap kali aku melangkah masuk. Bagiku, koridor ini bukan sekadar jalan menuju kelas, melainkan sebuah lorong penghakiman. Setiap pasang mata yang berpapasan denganku adalah hakim, dan kebisuanku adalah kesalahan yang belum sempat kubela.
Pagi ini, ada sesuatu yang berbeda di kelas 4-B. Suasana yang biasanya riuh oleh teriakan Rian dan gengnya, mendadak berubah menjadi gumaman rendah yang penuh rasa ingin tahu. Di depan kelas, berdiri seorang wanita dengan kacamata berbingkai tegas dan blus warna krem yang kaku.
"Anak-anak, perkenalkan, ini Bu Widya. Beliau akan menggantikan Pak guru bahasa selama satu bulan ke depan," kata Kepala Sekolah sebelum meninggalkan ruangan.
Bu Widya tidak tersenyum. Matanya menyapu seisi kelas seperti sinar laser, mencari mangsa untuk diuji. Dan sialnya, laser itu berhenti tepat di wajahku. Aku segera menunduk, pura-pura sibuk merapikan letak pita merah di rambutku, tapi aku bisa merasakan aura kehadirannya mendekat.
"Kamu," suaranya tajam, memecah kesunyian di sudut kursiku. "Siapa namamu?"
Seluruh kelas mendadak senyap. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu seperti derap kuda. Kelereng-kelereng di leherku mulai berdesakan, saling kunci, membuat jakunku terasa kaku.
Aku mengangkat wajah perlahan, menatap matanya, lalu hanya bisa menggerakkan bibir tanpa suara. La-na.