SIMFONI DI BALIK BOTOL KACA.

P12
Chapter #4

BAB 4: BAHASA TANPA SUARA

Setelah insiden di kelas Bu Widya, sekolah terasa seperti medan perang yang baru saja usai, namun masih menyisakan sisa-sisa asap yang menyesakkan. Aku merasa semua orang menatapku dengan cara yang berbeda—sebagian dengan ejekan yang masih segar di bibir, sebagian lagi dengan belas kasihan yang terasa seperti lendir dingin yang menempel di kulitku.

Aku duduk di bangkuku, memandangi meja kayu yang penuh dengan coretan pulpen. Di dalam tenggorokanku, kelereng-kelereng itu masih terasa panas, sisa dari kepanikan tadi pagi. Aku ingin menghilang, ingin menjadi butiran debu yang terbang di antara sinar matahari yang menembus jendela kelas.

Tiba-tiba, sebuah sobekan kertas kecil meluncur pelan ke atas mejaku.

Aku tersentak. Sudut mataku melirik ke arah Gilang. Dia masih berada di posisinya yang biasa, menyandar pada dinding, matanya menatap keluar jendela seolah-olah awan di langit jauh lebih menarik daripada pelajaran sejarah di papan tulis. Tangannya yang masih memegang pensil kayu terlihat santai, namun aku tahu, dialah pengirim kertas itu.

Dengan jari gemetar, aku membuka lipatan kertas kecil itu. Di sana, tidak ada tulisan. Tidak ada kata-kata.

Hanya sebuah sketsa sederhana. Sebuah botol kecil dengan tanaman kecil yang mulai tumbuh dari dalamnya, menembus sumbat gabusnya. Di bawah gambar itu, ada garis melengkung yang menyerupai senyuman tipis.

Hatiku berdesir. Itu bukan sekadar gambar. Itu adalah sebuah pesan yang mengatakan: Aku tahu kamu terjebak, tapi aku juga tahu kamu bisa tumbuh.

Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Aku tidak punya keberanian untuk menatapnya, apalagi memberikan secarik kertas balik. Maka, aku merogoh tas punggungku, mencari sesuatu di antara tumpukan buku. Jemariku menyentuh sesuatu yang kering. Sebuah daun kamboja kuning yang jatuh di halaman rumahku pagi tadi dan sempat kusimpan karena warnanya yang cantik.

Sambil memastikan Bu Widya tidak melihat, aku meletakkan daun itu di pinggir meja Gilang.

Aku bisa melihat tangan Gilang bergerak. Dia mengambil daun itu, memutarnya perlahan di antara ibu jari dan telunjuknya, lalu memasukkannya ke dalam saku jaket denimnya. Dia tidak tersenyum, tapi pundaknya tampak sedikit lebih rileks.

Lihat selengkapnya