Dunia sekolah bagi kebanyakan orang adalah lapangan basket yang ramai, kantin yang penuh asap minyak goreng, atau koridor yang bising. Namun bagi Gilang, sekolah memiliki dimensi lain. Dan hari ini, dia memutuskan untuk menarikku masuk ke dalamnya.
"Ikut aku," ucapnya singkat setelah bel pulang berbunyi.
Ia tidak menunggu jawabanku. Dia tahu aku tidak akan menjawab "ya" atau "tidak". Dia hanya berjalan dengan langkah panjang yang santai, sesekali memperbaiki letak tas kanvasnya yang tampak berat. Aku mengekor di belakangnya seperti bayangan yang ragu-ragu.
Kami melewati area parkir guru, menembus gudang olahraga yang berbau karet ban, hingga sampai di bagian paling belakang sekolah yang berbatasan dengan tembok tinggi penuh lumut. Di sana, sebuah pohon kamboja tua berdiri dengan dahan-dahan yang meliuk seperti jemari raksasa yang sedang menari. Bunga-bunganya yang putih kekuningan berserakan di tanah, menyebarkan aroma harum yang berat dan manis—sebuah aroma yang di kepalaku terasa seperti warna putih susu yang kental.
Di balik pohon itu, terdapat sebuah pintu kayu kecil yang catnya sudah mengelupas, menempel pada bangunan tambahan yang dulunya mungkin gudang alat kebun.
Gilang mengeluarkan sebuah kunci berkarat dari sakunya. Kriet... Pintu itu terbuka, memprotes karena engselnya yang jarang diminyaki.
"Selamat datang di 'Ruang Kedap Suara'," gumam Gilang.
Aku melangkah masuk dan seketika aku menahan napas. Ruangan itu kecil, tapi penuh sesak dengan kehidupan. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor, membentuk garis-garis emas yang menembus debu-debu beterbangan.
Namun, yang membuat jantungku berdegup kencang bukan cahayanya, melainkan isinya. Di setiap sudut, terdapat kaleng-kaleng cat bekas, kuas-kuas yang sudah mengeras, dan tumpukan kardus yang dipenuhi lukisan abstrak. Dinding-dindingnya tidak lagi berwarna abu-abu; mereka tertutup oleh lapisan-lapisan warna yang tumpang tindih—biru laut, merah api, hijau hutan.