SIMFONI DI BALIK BOTOL KACA.

P12
Chapter #6

BAB 6: WARNA YANG BERTERIAK

Sejak sore itu di bawah pohon kamboja, duniaku tidak lagi terasa seperti abu-abu yang mati. Kini, setiap kali Rian mengejekku di koridor, atau setiap kali Bu Widya menatapku dengan sorot mata menuntut, aku tidak lagi hanya menunduk dan membiarkan kelereng di leherku mencekikku. Aku mulai mengumpulkan emosi-emosi itu—kemarahan yang berwarna merah pekat, rasa malu yang berwarna ungu lebam, dan kesedihan yang berwarna biru kelam—lalu menyimpannya di sebuah saku rahasia di dalam kepalaku.

Aku akan membawanya ke gudang belakang. Aku akan membiarkan warna-warna itu "berteriak" di sana.

"Lagi?" tanya Gilang saat aku datang dengan napas terengah-engah sepulang sekolah.

Aku tidak menjawab, tapi dia bisa melihat tanganku yang gemetar. Hari ini Rian keterlaluan. Dia sengaja menyandung kakiku di kantin hingga kotak bekalku tumpah, lalu tertawa sambil berkata bahwa makanan itu sama seperti aku: "Diam dan tidak berguna."

Aku langsung menyambar kaleng cat warna merah cabai. Tanpa menggunakan kuas, aku mencelupkan jemariku ke dalamnya. Cairan itu terasa dingin dan kental, namun di kepalaku, warnanya terasa panas membara.

Sret! Sret!

Aku menghantamkan tanganku ke atas lembaran kardus besar yang dipasang Gilang di dinding. Aku tidak melukis bunga. Aku tidak melukis matahari. Aku melukis kemarahan. Goresan jariku membentuk garis-garis tajam yang saling silang, seperti luka-luka yang tidak terlihat. Aku menambahkan warna hitam yang legam, menyiramkannya begitu saja hingga membentuk tetesan yang mengalir ke bawah seperti air mata yang kotor.

Lihat selengkapnya