Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #1

Bab 1. Impian di Meja Dapur



Aroma kopi tubruk yang pekat menguar, beradu mesra dengan wangi samar serundeng kelapa dari sarapan yang baru saja tandas. 

Cahaya matahari pagi menerobos celah gorden dapur yang sedikit bergeser, melukis garis-garis emas di atas meja makan kayu jati yang lapuk dimakan usia. 

Raya menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya yang masih sedikit lengket oleh sisa madu kini membelai permukaan meja yang halus namun penuh guratan sejarah. 

Di hadapannya, terbentang bukan sekadar serbet lusuh atau remah roti terakhir, melainkan sebuah buku sketsa berdebu dengan sampul kulit cokelat yang mulai terkelupas di tepinya.

Tangannya membuka lembaran demi lembaran. Kertas-kertas itu bukan berisi catatan resep atau daftar belanjaan bulanan. Di sana, terlukis mimpi. Garis-garis tegas dan goresan halus pensil menciptakan denah-denah rumah. 

Ada rumah dengan atap segitiga klasik yang tampak ramah, rumah bergaya minimalis modern dengan jendela-jendela besar yang seolah menyerap seluruh cahaya matahari, bahkan ada sketsa rumah mungil dengan teras berayunan yang memancarkan aura ketenangan pedesaan. 

Masing-masing memiliki karakter, masing-masing adalah potret sebuah angan.

"Bu! Beneran nggak ada sisa puding cokelatnya?" Suara cempreng Dino, si bungsu berusia tujuh tahun, memecah keheningan pagi. 

Ia muncul di ambang pintu dapur, matanya yang bulat masih setengah terpejam, rambut acak-acakan khas bangun tidur yang justru membuatnya tampak menggemaskan.

Raya tersenyum, menyelipkan buku sketsa itu ke bawah tumpukan majalah masak yang tak pernah benar-benar dibaca. 

"Sudah habis, Sayang. Tadi malam kan sudah Ibu bilang, pudingnya favoritnya Kak Lila, jadi dia makan separuh." Ia mengedipkan mata pada Dino. "Mau Ibu buatkan susu cokelat saja?"

Dino mendengus, memasang wajah masam yang dibuat-buat. "Ih, Ibu! Kayak Dino nggak punya gigi saja. Dino sudah besar! Tapi ... kalau susunya pakai gula aren, boleh deh." Ia menambahkan dengan nada sedikit berbisik, seolah mengajukan permintaan rahasia negara.

Raya tertawa kecil. Siapa sangka, anak semata wayangnya ini punya selera yang semakin "dewasa". Ia bangkit, mengambil susu dan gula aren. Saat itulah Lila, sang putri sulung yang sepuluh tahun, muncul dari kamarnya, membawa serta aura buku pelajaran dan logika yang kental.

"Pudingnya sudah habis, Bu? Aku kan belum puas memakannya," keluhnya, nada suaranya datar namun tersirat kekecewaan. Ia duduk di samping Dino, meraih majalah yang menutupi buku sketsa Raya.

"Hei, hei, jangan diacak-acak majalahnya." Raya mengingatkan lembut, namun dalam hati ia geli melihat ekspresi kedua buah hatinya yang kontras. 

Si bungsu yang polos dan manja, si sulung yang analitis namun tetap saja seorang anak yang merindukan manisnya puding.

Lihat selengkapnya