Malam itu, meja makan kembali menjadi medan pertempuran, namun kali ini bukan dengan sisa makanan, melainkan dengan tumpukan kertas, pulpen, dan sebuah laptop yang memancarkan cahaya redup.
Bima dengan kacamata bertengger di hidungnya, tampak serius menatap layar. Di sampingnya, Raya dengan buku sketsa dan beberapa majalah desain interior yang sudah lusuh, sesekali melirik layar laptop Bima.
Lila dan Dino, yang seharusnya sudah tidur, diam-diam menguping dari balik sofa ruang tamu, telinga mereka menajam seperti antena TV kuno.
"Oke, jadi kalau kita ambil lahan yang kemarin itu, ukuran 10x15 meter." Bima memulai, suaranya pelan dan fokus, "Dengan desain minimalis tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur menyatu ruang makan, dan ruang keluarga yang lega ... estimasi kasar untuk struktur dan finishing standar, bisa sekitar lima ratus juta."
Raya terkesiap. "Lima ratus juta, Yah? Wah ... itu baru rumahnya saja, kan? Belum isi-isinya." Tangannya refleks menyentuh kalung di lehernya, kebiasaan lamanya yang muncul saat sedang berpikir keras.
"Betul, Sayang. Itu belum termasuk perabot, taman, atau hiasan-hiasan estetik ala Pinterest-mu itu." Bima melirik Raya sambil tersenyum geli. "Tapi jangan khawatir, itu kan estimasi paling atas. Kita bisa hemat sana-sini. Makanya perlu perhitungan matang."
Tiba-tiba, kepala Dino muncul dari balik sofa, matanya yang bulat seperti kelereng memancarkan rasa ingin tahu yang tak terbendung. "Lima ratus juta itu banyak ya, Ayah?"
Lila menimpali, muncul di sebelahnya dengan ekspresi 'tahu segalanya'. "Jelas banyak, Dino. Kalau uang segitu buat beli es krim rasa stroberi kesukaanmu, bisa dapat berapa juta es krim coba? Bisa sampai tujuh turunan nggak habis-habis!"
"Eh, kok malah mikirin es krim?" Bima pura-pura galak, tapi sudut bibirnya terangkat. "Sudah sana tidur, kalian berdua. Ini obrolan orang dewasa."
"Tapi Ayah ngomongin rumah kita!" Dino memprotes, bibirnya mengerucut. "Dino kan mau kamar yang ada kolam bolanya."
Raya menatap Bima, ekspresinya meminta dukungan untuk tidak menolak impian kecil Dino. "Nanti kita atur, Sayang. Kolam bola itu bisa diatur di pojokan kamar, atau di taman belakang."
"Nah, itu dia, By!" Dino bersorak, seolah mimpinya sudah di ambang mata. "Kalau gitu, nanti kolam bolanya harus warna-warni kayak pelangi ya!"
Lila menyela dengan nada logisnya,"Dino, kalau pakai kolam bola, nanti kamar tidurmu jadi sempit. Lagian, bola-bola itu bisa kotor lho. Perlu dicuci kan? Nanti Mama capek."
"Ih, Kak Lila mah! Kan bisa dicuci bareng-bareng! Ayah juga bantu, kan?" Dino menoleh pada Bima, mencari sekutu.
Bima terkekeh, mengangkat tangan. "Oke, oke, Dino. Ayah siap membantu mencuci bola pelangi. Asalkan ... Ayah cuma mencuci kalau bolanya bersih. Kalau bolanya sudah bau kaki, Dino yang cuci sendiri!"
Dino langsung manyun. "Yahhh ...."
Raya menggeleng-gelengkan kepala, geli. Di tengah deretan angka dan kolom-kolom spreadsheet yang rumit, celetukan polos anak-anak mereka justru menjadi melodi yang menghidupkan suasana.
Sebuah simfoni kecil yang sudah mulai bermain, bahkan sebelum rumah impian itu berdiri.