Mentari pagi belum sepenuhnya beranjak dari peraduannya, namun Raya dan Bima sudah siap melangkah.
Hari ini adalah hari penentuan, hari pencarian lahan. Berbekal buku sketsa Raya yang penuh coretan denah rumah impian dan catatan Bima tentang spesifikasi lahan idaman, mereka memulai petualangan baru ini.
Mobil keluarga mereka, si Kijang Inova yang setia menemani lika-liku keluarga, kini melaju meninggalkan kompleks perumahan yang terasa semakin sempit di hati Raya.
"Jadi, kita mau cari di daerah mana dulu, Yah?" tanya Raya, sambil mengamati peta digital di ponsel Bima. Matanya memindai area-area yang ditandai sebagai zona perumahan baru.
"Kata Pak RT, di utara kota ada beberapa developer yang lagi buka lahan baru. Katanya pemandangannya lumayan bagus, udaranya juga lebih segar." Bima menjawab, tangannya sigap memutar kemudi.
"Kita coba ke sana dulu. Tapi kalau nggak cocok, kita bisa coba ke arah timur, dekat danau buatan itu. Katanya ada tanah kavling yang dijual warga."
Perjalanan mereka dimulai. Langit pagi yang cerah seolah menjadi pertanda baik. Namun, realitas di lapangan seringkali berbeda dari harapan.
Lokasi pertama yang mereka tuju ternyata masih berupa hamparan sawah luas, belum tersentuh pembangunan sama sekali. Hanya ada beberapa patok kayu yang menandakan rencana masa depan, namun suasana pedesaan yang masih kental terasa belum sejalan dengan konsep rumah minimalis modern Raya.
"Ini sih masih terlalu ... hijau, Yah," Raya bergumam pelan, sambil memotret pemandangan sawah yang membentang. "Terlalu jauh dari mana-mana. Nanti kalau Dino sakit, mau dibawa ke rumah sakit mana?"
Bima mengangguk setuju. "Iya, aksesnya juga masih susah. Jalanannya belum diaspal. Mungkin ini cocok kalau kita mau buka vila, bukan rumah tinggal."
Mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua. Kali ini, pemandangannya lebih menjanjikan. Beberapa rumah modern sudah mulai berdiri, jalanan sudah mulai diaspal, dan ada papan reklame besar bertuliskan "Green Valley Residence". Namun, begitu mereka memasuki area perumahan itu, Raya merasa ada yang kurang.
"Kok rasanya ... sama saja ya, Yah?" Raya membandingkan dengan majalah desainnya. "Semua rumahnya mirip-mirip. Kotak-kotak semua. Nggak ada ruang buat imajinasi Ibu."
Ia terkekeh. "Terus, ini kavlingnya kecil-kecil banget. Nanti kalau mau bikin taman buat Dino, nggak cukup."
Bima melirik ke samping. "Iya juga sih. Kelihatannya memang lebih cocok buat orang yang nggak suka berkebun. Tapi fasilitasnya lumayan lengkap. Ada taman bermain, jogging track ...."
"Tapi nggak ada jiwa, Yah," potong Raya cepat. "Rasanya kayak rumah boneka. Cantik, tapi nggak hidup."
Mereka kembali melanjutkan pencarian. Siang berganti sore, matahari mulai condong ke barat. Sambil lalu, Bima melihat sebuah spanduk sederhana yang terpasang di pinggir jalan kecil yang agak rindang. "Dijual Tanah Kavling - Hubungi Pak Tono 0812 xxxx xxxx".
"Tunggu dulu." Bima memelankan mobil. "Coba kita lihat yang ini. Kayaknya bukan perumahan besar."