Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #4

Bab 4. Desain Keluarga


Cahaya sore yang lembut menyusup masuk melalui jendela ruang keluarga, melukis siluet anggota keluarga di dinding. Aroma teh melati yang mengepul tipis dari cangkir di meja kopi berpadu dengan wangi kertas gambar yang baru dibuka. 

Raya duduk di karpet tebal, dengan gulungan-gulungan kertas kalkir dan pensil warna yang tersebar di sekelilingnya. 

Bima bersila di hadapannya, laptop di pangkuannya kini menampilkan software desain arsitektur yang serius, siap menerima input. 

Lila dan Dino, seolah ini adalah rapat paling penting dalam hidup mereka, duduk rapi di sofa, mata mereka terpaku pada gulungan kertas di tangan Raya.

"Oke, jadi ini draft awal setelah kita sepakat sama lahan Pak Tono." Raya memulai, suaranya penuh antusiasme, seperti seorang konduktor yang siap memimpin orkestra. 

Ia membentangkan sebuah denah besar di tengah karpet. "Ibu sudah coba masukkan semua yang kita diskusikan. Lihat, di bagian depan ini ada teras kecil, terus ini ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, biar terasa lega."

Dino segera menunjuk sebuah kotak kecil di sudut denah. "Ini kamar Dino ya, Bu? Ada kolam bolanya?"

Raya terkekeh. "Bukan, Sayang. Itu kamar mandi tamu. Kamar Dino ada di sini, di belakang, dekat taman kecil yang bisa kamu buat main." Ia menunjuk area lain.

"Yahh ... kolam bolanya nggak jadi warna-warni kayak pelangi di kamar Dino dong?" Raut wajah Dino langsung berubah murung.

"Kalau kolam bola di dalam kamar, nanti kamarmu sempit, Dino." Lila menjelaskan dengan sabar, seperti biasa. "Bolanya juga kalau kena basah, bisa jamuran. Nanti kalau ada tamu menginap, kamar mandinya dipakai semua, kan nggak enak."

Bima mengangguk. "Betul kata Kak Lila. Lagian, Dino kan mau taman. Nanti kolam bolanya bisa di taman belakang, atau kita buatkan semacam 'area bermain Dino' di halaman, jadi lebih luas."

Mendengar kata "area bermain Dino", mata Dino kembali berbinar. "Beneran, Ayah? Bisa buat main bola beneran?"

"Bisa!" Bima tersenyum. "Tapi jangan sampai bolanya terbang ke rumah tetangga, ya."

Raya melanjutkan, menunjuk area kamar tidur utama dan dua kamar anak. "Nah, ini kamar Ibu dan Ayah, dekat jendela besar menghadap taman belakang. Terus ini kamar Kak Lila, dan ini kamar Dino. Ibu sengaja buat kamar kalian di sisi yang berbeda, biar nggak berisik kalau salah satu lagi belajar atau lagi main."

Lila mencondongkan tubuhnya ke depan, meneliti denah kamarnya. "Jendelanya besar, Bu? Aku kan mau yang bisa lihat bintang kalau malam." Matanya berbinar penuh harap.

Lihat selengkapnya