Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #5

Bab 5. Izin dan Birokrasi

Udara di dalam ruangan itu terasa pengap, bercampur wangi karbol yang tajam dan aroma keringat ratusan manusia yang memadati setiap sudut. 

Dinding-dindingnya bercat krem kusam, dihiasi poster-poster berisi alur perizinan yang tampak seperti peta harta karun yang rumit. 

Raya duduk di bangku tunggu paling ujung, nomor antrean di tangannya kini terasa seperti beban seberat batu. Sudah dua jam, dan nomornya belum juga terpanggil.

Jemarinya yang gelisah berulang kali membolak-balik lembaran formulir yang sudah diisi, memastikan tidak ada satu pun tanda tangan yang luput.

"Nomor antrean 234!" Suara parau seorang petugas menggelegar dari balik loket nomor tiga.

Raya mendesah. Nomornya masih 239. Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Bima.

'Aku masih di kantor perizinan, Yah. Sepertinya butuh kesabaran ekstra di sini. Nomor antreanku masih lama. Kamu udah selesai rapat?'

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.

'Sabar, Sayang. Kantor pemerintahan memang butuh kesabaran super. Aku baru selesai. Sudah makan siang? Jangan sampai maagmu kambuh. Mau aku bawakan sesuatu?'

Raya tersenyum tipis membaca pesan itu. Bima selalu tahu cara menenangkan hatinya.

'Sudah kok, tadi sempat beli roti. Nggak usah jemput, nanti malah muter-muter. Kamu fokus kerja saja. Nanti aku kabarin kalau sudah selesai.'

Ia kembali membenahi berkas-berkas di tasnya. Formulir IMB, surat keterangan tanah, fotokopi KTP, KK, PBB, sertifikat tanah, surat pengantar RT/RW, dan entah apalagi yang akan diminta. Rasanya seperti sedang mendaftar sekolah untuk seluruh keturunan, saking banyaknya persyaratan.

Sebuah rumah, pikir Raya, adalah impian yang berwujud. Namun di antara impian dan kenyataan, seringkali terbentang gurun bernama birokrasi. 

Dinding-dinding balai kota ini terasa seperti labirin yang dirancang untuk menguji ketahanan jiwa. Setiap loket adalah sebuah pos pemeriksaan, setiap petugas adalah penjaga gerbang yang memegang kunci. Ia adalah not-not sumbang dalam sebuah simfoni yang harus tetap dimainkan, agar melodi utamanya bisa terdengar merdu di kemudian hari.

"Nomor antrean 239!"

Jantung Raya berdebar. Akhirnya! Ia segera bangkit, merapikan bajunya, dan berjalan menuju loket yang memanggil. Di balik kaca tebal, seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai tebal menatapnya datar.

"Berkas perizinan IMB atas nama Raya Adelia," Raya menyodorkan map berisi berkasnya.

Wanita itu mengambil map, membolak-baliknya dengan gerakan cepat, matanya menyapu setiap lembar. Beberapa detik kemudian, ia berhenti. "Ibu, ini surat keterangan tidak sengketa dari kelurahan belum ada legalisir stempel dari kecamatan."

Raya terkesiap. "Loh, bukannya kemarin sudah saya legalisir di kelurahan ya, Bu?"

"Kelurahan saja tidak cukup, Bu. Harus ada stempel dari kecamatan juga. Ini kan untuk pembangunan di atas sekian meter persegi. Aturannya begitu," jawab petugas itu tanpa ekspresi, seolah ini adalah mantra yang sudah dihafalnya.

Lihat selengkapnya