Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan gambar denah, formulir IMB yang berbelit, dan negosiasi harga lahan, Raya dan Bima akhirnya siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu mencari tukang.
Hari ini adalah jadwal pertemuan pertama dengan Pak Jono, seorang mandor sekaligus pemborong yang direkomendasikan oleh seorang teman Bima.
Mereka tiba di lokasi lahan yang sudah dibeli. Rerumputan liar tumbuh cukup tinggi, beberapa pohon mangga tua masih berdiri kokoh, dan suasana masih terasa asri.
Di sudut lahan, tampak sebuah gubuk sederhana tempat Pak Jono biasa menunggu.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap, berkulit sawo matang, dengan topi fedora lusuh yang bertengger di kepalanya, menghampiri mereka. Senyumnya ramah, namun tatapannya tajam, seolah sedang mengukur segala sesuatu di sekelilingnya.
"Bapak Bima? Ibu Raya?" Sapanya dengan suara berat. "Saya Jono. Yang punya lahan ini bilang mau ketemu saya."
"Iya, Pak Jono. Kami Bima dan Raya." Bima menyalami Pak Jono dengan erat. "Terima kasih sudah mau datang."
"Sama-sama, Pak. Sini, mari kita lihat dulu lokasinya. Biar saya bisa bayangkan bangunannya seperti apa." Pak Jono mengajak mereka berkeliling lahan.
Raya mengikuti, matanya tak lepas dari Pak Jono. Ia mengamati cara Pak Jono menyentuh tanah, memandang ke arah pepohonan, dan sesekali mengetuk-ngetuk bagian tanah dengan sepatunya.
"Tanahnya bagus ini," komentar Pak Jono setelah beberapa saat. "Subur. Nanti fondasinya nggak perlu terlalu dalam. Tapi harus diperhatikan drainasenya, soalnya agak rendah."
Bima mengangguk. "Iya, Pak. Itu sudah kami perhitungkan. Nanti kami minta bantuan Bapak untuk desain drainasenya juga."
Raya memberanikan diri bertanya, "Pak Jono, kami rencananya mau bangun rumah minimalis modern, tapi tetap hangat. Ada beberapa permintaan khusus, seperti jendela besar di kamar anak, dapur dengan island, sama teras depan yang cukup luas buat santai." Ia membuka buku sketsanya, menunjukkan beberapa gambar denah dan sketsa kasar.
Pak Jono menerima buku sketsa itu, membolak-baliknya dengan serius. Ia mengamati setiap garis, setiap detail. Beberapa kali ia bergumam pelan, "Hmm ... menarik."