Udara pagi yang cerah terasa sedikit terganggu oleh mendung tipis yang mulai menggumpal di benak Raya.
Ia dan Bima baru saja kembali dari kunjungan ke toko material langganan Pak Jono. Di tangan Raya tergenggam selembar kertas bertuliskan daftar material yang dibutuhkan, namun kini disertai dengan angka-angka yang membengkak drastis dari perkiraan awal.
"Yah, kamu lihat ini?" Raya menyodorkan kertas itu pada Bima yang sedang memarkirkan mobil di depan rumah. "Harga semen naik lagi. Katanya karena pasokan lagi susah. Terus pasir juga ikut naik."
Bima menghela napas. "Sudah kuduga. Akhir-akhir ini memang banyak berita soal kelangkaan material bangunan. Mau bagaimana lagi, Sayang. Ini kan sudah harga pasar."
"Tapi kan ini di luar anggaran kita, Yah. Kalau begini terus, bisa-bisa kita harus potong anggaran untuk yang lain. Misalnya ... sofa impian Ibu yang beige itu." Raya bergumam pelan, nada suaranya terdengar sedikit kecewa.
Bima tersenyum, meraih tangan Raya. "Sofa itu bisa kita cari yang second tapi masih bagus, atau kita tunda dulu beli yang baru. Masih banyak cara kok. Yang penting, rumahnya harus kokoh dulu. Kualitas material dasarnya."
Raya mengangguk, memahami logika Bima. Memang benar, fondasi rumah adalah prioritas utama. Namun, bayangan sofa empuk yang ia impikan di ruang keluarga, tempat ia akan bersantai sambil membaca buku atau menonton anak-anak bermain, sedikit memudar.
Ia membayangkan rumah itu nanti, dengan dinding-dinding kokoh yang dihaluskan oleh semen berkualitas, dengan lantai yang kuat ditopang pasir pilihan. Namun, tanpa sentuhan personal yang membuatnya terasa 'rumah' baginya, rasanya tetap ada yang kurang.
Seperti sebuah simfoni yang dimainkan dengan sempurna, namun kehilangan satu instrumen melodi yang membuatnya berkarakter.
Mereka masuk ke dalam rumah. Lila dan Dino sudah sibuk dengan buku gambar mereka di meja makan.
"Ibu! Ayah! Lihat nih!" Dino menunjukkan gambarnya. Seekor naga berwarna merah menyala sedang terbang di atas rumah-rumah kotak. "Ini rumah kita nanti, Bu! Ada perosotannya!"
"Dino, itu kan sudah kita bahas, nggak ada perosotan di rumah kita." Lila menyela, sambil menunjukkan gambarnya yang lebih rapi, sebuah rumah minimalis dengan taman bunga di depannya. "Ini rumah kita nanti, Bu. Jendelanya besar, ada ayunan di pohon mangga."
Raya tersenyum melihat perbedaan gambar kedua anaknya. Satu penuh fantasi liar, satu lagi lebih mendekati impian yang mereka diskusikan. "Bagus sekali gambar kalian," katanya tulus. "Nanti kita coba masukkan ide-ide ini ke desain rumah kita ya."