Dinding-dinding rumah Raya yang sekarang, dengan catnya yang sudah memudar, kini seolah merasakan getaran baru.
Getaran palu yang berulang, suara adukan semen yang berdengung, dan deru mesin pemotong keramik dari lahan di ujung jalan, kini menjadi melodi latar harian mereka.
Debu, oh debu! Ia adalah selimut tak terlihat yang kini menyelimuti setiap permukaan di dalam rumah, menempel pada daun jendela, bersembunyi di sela-sela buku, dan bahkan menempel manja di rambut Lila dan Dino setiap kali mereka pulang sekolah.
"Bu, ini karpetnya sudah dicuci dua kali kok masih kerasa berpasir ya?" Lila mengeluh, jarinya mengusap permukaan karpet di ruang keluarga. Ia baru saja selesai belajar dan kini mencoba bersantai.
Raya tersenyum masam, tangannya masih sibuk mengelap meja kopi untuk kesekian kalinya pagi itu. "Iya, Sayang. Namanya juga proyek pembangunan. Debunya pasti ikut terbang ke mana-mana. Ini saja Ibu sudah bersihkan jendela sampai tiga kali sehari."
Dino muncul dari kamarnya, wajahnya dan bajunya sedikit lusuh, seolah baru saja berguling-guling di tumpukan pasir. "Ibu! Lihat nih! Dino sudah jadi tukang bangunan!" Ia menunjukkan tangannya yang sedikit kotor, bangga. "Tadi aku bantu Pakde-pakde angkat batu kecil!"
"Dino!" Raya terkesiap. "Kan Ibu sudah bilang jangan main di lokasi pembangunan! Itu bahaya, Sayang. Nanti kalau ada paku atau material yang jatuh gimana?"
"Nggak apa-apa kok, Bu! Pakde-pakdenya baik, mereka jagain Dino." Dino membela diri, bibirnya mengerucut. "Dino kan mau bantu biar rumah kita cepat jadi."
Bima, yang baru saja pulang dari kantor, tersenyum melihat kekacauan kecil itu. "Tidak apa-apa, Sayang. Asal diawasi. Dia kan cuma penasaran. Ayah juga dulu suka main ke lokasi proyek waktu kecil."
Ia mengusap kepala Dino. "Tapi jangan terlalu dekat alat beratnya ya, Nak. Itu bahaya."
Raya melihat debu-debu yang menari di udara, seolah setiap partikelnya membawa janji dan tantangan. Ia adalah pengorbanan kecil yang harus mereka bayar untuk sebuah impian besar.
Rumah impian itu, ia menyadari, tidak akan tercipta dari keheningan dan kebersihan. Ia lahir dari hiruk pikuk, dari suara bising, dari keringat para pekerja, dan ya, dari debu yang tak terhindarkan.
Debu itu adalah nada-nada yang masih kasar, yang belum terpoles, namun esensial dalam sebuah simfoni. Ia adalah fondasi realitas, yang perlahan membentuk melodi keindahan.
"Yah, kamu nggak pusing dengar suara palu terus dari pagi sampai sore?" tanya Raya, menyerahkan segelas teh hangat pada Bima.
Bima menyesap tehnya. "Awalnya pusing, Sayang. Tapi lama-lama jadi terbiasa. Malah rasanya aneh kalau tiba-tiba sepi. Kayak ada yang kurang." Ia tertawa. "Anggap saja ini background music perjuangan kita."
"Background music perjuangan yang membuat telinga Ibu pengang." Raya menggumam, namun tersenyum. "Terus, Pak Jono bilang apa tadi, Yah? Sudah sampai mana progresnya?"