Langit sore itu berubah drastis. Awan kelabu pekat mulai menggumpal, menutupi sinar matahari yang tadinya hangat. Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering dan debu pembangunan, menciptakan pusaran mini di sekitar lokasi rumah yang sedang dibangun.
Raya, yang sedang mengunjungi lokasi bersama Bima untuk melihat progres pemasangan kusen jendela, merasakan hawa dingin yang menusuk.
"Yah, kayaknya mau hujan deras," ujar Raya, merapatkan jaketnya. Ia melihat Pak Jono sedang memberi instruksi pada para pekerjanya, suaranya sedikit terdengar tertiup angin.
"Iya, Sayang. Sepertinya musim hujan datang lebih cepat tahun ini." Bima menimpali, matanya memindai ke arah tumpukan material yang belum terpakai. "Semoga saja tidak terlalu lama hujannya."
Mereka kembali ke mobil, tepat saat rintik-rintik pertama mulai jatuh. Namun, tak lama kemudian, hujan itu berubah menjadi deras, disertai angin kencang yang menggetarkan kaca mobil. Kilat menyambar di kejauhan, disusul gemuruh petir yang menggetarkan.
"Ya ampun! Itu pondasi yang belum ditutup sama Pak Jono tadi, bagaimana nasibnya ya?" Raya cemas, membayangkan parit-parit fondasi yang kini tergenang air hujan.
"Semoga saja Pak Jono sudah mengantisipasinya, Sayang." Bima berusaha menenangkan. "Biasanya mereka punya cara untuk menutupinya sementara pakai terpal atau apa. Tapi tetap saja, hujan deras begini bisa menunda pekerjaan."
Kekhawatiran Raya terbukti benar. Keesokan harinya, saat mereka kembali mengunjungi lokasi, suasana terasa berbeda. Hujan masih gerimis, namun tanah terlihat becek dan berlumpur.
Beberapa tumpukan material, terutama pasir dan beberapa sak semen yang tidak tertutup sempurna, tampak basah kuyup. Pak Jono terlihat sedang berdiskusi serius dengan timnya.
"Bagaimana, Pak Jono?" Bima bertanya, nadanya sedikit khawatir. "Sepertinya hujannya cukup parah semalam."
Pak Jono menghela napas. "Iya, Pak Bima. Hujannya deras sekali. Tadi malam kami sudah coba tutup pakai terpal, tapi anginnya kencang sekali, terpalnya sampai robek di beberapa bagian. Material yang pasir basah, tidak apa-apa. Tapi semen yang sudah kena air begini, kualitasnya bisa menurun. Terpaksa harus kami buang dan beli baru."
Raya menahan napas. "Berapa banyak yang harus dibuang, Pak?"
"Sekitar sepuluh sak semen, Bu. Dan beberapa material kayu juga agak lembab. Perlu kami jemur dulu," Pak Jono menjelaskan, wajahnya tampak sedikit muram. "Ini pasti akan ada penundaan jadwal. Setidaknya beberapa hari, tergantung cuaca."
Raya menatap lantai yang berlumpur, sak-sak semen yang basah, dan tumpukan kayu yang lembab.
Seperti ada nada sumbang yang tiba-tiba merusak harmoni simfoni yang sedang mereka mainkan. Rintik hujan yang tadinya hanya sekadar latar, kini menjadi disonansi yang mengganggu.
Ia membayangkan rumah impiannya, yang tadinya mulai terbentuk, kini tertunda karena kekuatan alam yang tak terduga. Seperti sebuah melodi yang terhenti di tengah jalan, menunggu nada selanjutnya untuk melanjutkan alunan.