Sore itu, di tengah gerimis tipis yang masih menyisakan hawa dingin setelah badai, sebuah mobil sedan tua berwarna biru dongker melaju perlahan memasuki halaman rumah Raya. Bukan Kijang Inova mereka, melainkan mobil milik orang tua Bima.
Senyum Raya langsung merekah. Tepat di saat mereka merasa sedikit terpukul oleh penundaan pembangunan, hadirnya kedua orang tua itu terasa seperti melodi penenang yang paling dibutuhkan.
"Mama! Papa!" seru Bima, segera berlari menyambut orang tuanya. Raya mengekor di belakangnya, tak kalah gembira.
"Bima, Raya, apa kabar kalian?" Ibu Bima, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun dengan kerudung motif bunga, memeluk putra dan menantunya bergantian.
Di sampingnya, Bapak Bima, dengan rambut putih yang sudah menipis namun sorot mata yang hangat, tersenyum lebar.
"Kami baik, Ma, Pa. Kalian kok tiba-tiba datang? Nggak bilang-bilang dulu." Raya bertanya, sedikit terkejut namun bahagia.
"Namanya juga kunjungan tak terduga, Raya." Bapak Bima terkekeh. "Papa dan Mama khawatir dengar dari Bima kalau pembangunan rumah kalian tertunda karena hujan. Makanya kami datang untuk melihat dan memberi semangat."
Lila dan Dino yang mendengar keributan di depan, segera berlari keluar.
"Nenek! Kakek!" Dino langsung menerjang pelukan Neneknya. Lila menyalami Kakeknya dengan sopan.
"Wah, cucu-cucu Nenek sudah besar-besar ya." Ibu Bima mengelus kepala Dino. "Sudah bantu-bantu Ayah Ibu bangun rumah?"
"Dino bantu angkat batu kecil, Nek! Terus Dino mau bikin kolam bola di kamar Dino!" seru Dino dengan semangat.
Lila menyela, "Dino itu cuma ngarang, Nek. Dia cuma main tanah. Aku sih bantunya ide-ide buat dekorasi."
Semua tertawa. Suasana rumah yang tadinya terasa sedikit lesu karena penundaan, kini berubah ceria oleh kehadiran keluarga.
Mereka duduk di ruang tamu, menikmati teh hangat dan penganan ringan yang sudah disiapkan Raya. Percakapan mengalir santai, dari kabar keluarga hingga progres pembangunan rumah.
"Jadi, katanya semen dan pasirnya basah ya, Nak?" tanya Bapak Bima, menatap Bima. "Dulu Papa juga pernah begitu. Waktu bangun rumah ini, pas lagi musim hujan. Semennya sempat rusak, terpaksa harus beli lagi. Rasanya mau nangis darah."
Bima tertawa. "Iya, Pa. Rasanya memang begitu. Tapi ya mau bagaimana lagi. Alam memang begitu."
"Mama ingat sekali." Ibu Bima menimpali. "Waktu itu kita sampai harus pinjam uang ke sana ke mari buat beli semen lagi. Tapi ya, itulah perjuangan. Semua demi punya rumah sendiri."