Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #13

Bab 13. Bima Sang Ahli

Suara gerinda listrik beradu dengan dentingan palu yang berulang, menciptakan melodi aneh namun energik di lokasi pembangunan. 

Di tengah keramaian itu, tampak Bima, bukan dengan seragam kantornya yang rapi, melainkan dengan kaus lusuh, celana jeans belel, dan topi baseball yang sedikit miring. 

Kacamata minusnya kini diganti dengan kacamata pelindung, tangannya memegang alat ukur, matanya fokus mengawasi pemasangan rangka atap baja ringan. Di sampingnya, Pak Jono mengangguk-angguk, sesekali memberikan instruksi pada timnya.

"Ayah! Hati-hati naik ke atas!" teriak Dino dari bawah, matanya membelalak melihat Bima yang kini sudah naik ke scaffolding, membantu para tukang.

Lila menimpali, "Ayah kan insinyur, Dino. Pasti tahu caranya. Tapi tetap hati-hati ya, Ayah!"

Raya yang berdiri di samping anak-anak, mengamati Bima dengan senyum bangga. Setelah badai berlalu dan anggaran kembali disusun, Bima memutuskan untuk mengambil alih beberapa pekerjaan yang bisa ia lakukan sendiri di akhir pekan. 

Sebagai seorang insinyur sipil, ia punya pengetahuan teknis yang mumpuni. Dan ini adalah cara terbaik untuk menghemat biaya tukang, sekaligus memastikan kualitas pengerjaan.

"Bagaimana, Pak Jono? Aman kan kalau Bima ikut bantu begitu?" tanya Raya sedikit cemas.

Pak Jono tersenyum. "Aman, Bu Raya. Bapak Bima itu pengetahuannya bagus sekali. Malah kami jadi terbantu. Instruksinya juga jelas. Jarang-jarang ada pemilik rumah yang mau turun tangan begini."

Bima, dari atas, melambaikan tangannya pada Raya. "Tenang saja, Sayang! Ini kan bagian dari proyek kita. Ayah harus ikut andil!"

Raya menatap Bima. Ia adalah seorang konduktor yang kini juga menjadi pemain instrumen. Tangan-tangannya yang biasa memegang pena dan laptop, kini memegang palu dan alat ukur. 

Keringat yang menetes di dahinya adalah notasi perjuangan, setiap detail yang ia awasi adalah melodi presisi yang membentuk fondasi rumah mereka. 

Bima adalah bagian ritme, sekaligus melodi utama dalam simfoni ini. Ia bukan hanya membangun rumah, ia sedang menumpahkan jiwanya ke dalamnya, bata demi bata, rangka demi rangka.

Setelah beberapa jam berkutat dengan rangka atap, Bima akhirnya turun. Wajahnya lelah namun matanya memancarkan kepuasan. Ia segera menghampiri Raya dan anak-anak.

"Ayah capek ya?" Dino memegang tangan Bima yang sedikit kotor.

"Capek sedikit, Nak. Tapi senang. Lihat! Rangka atapnya sudah hampir selesai!" Bima menunjuk ke atas, ke arah kerangka baja ringan yang kini sudah membentuk siluet atap rumah.

Lihat selengkapnya