Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #14

Bab 14. Warna Pilihan Keluarga

Sore itu, ruang keluarga Raya dan Bima berubah menjadi galeri seni dadakan. Berpuluh-puluh sampel warna cat berjejer di atas karpet, mulai dari warna putih bersih, krem lembut, abu-abu modern, hingga warna-warna cerah seperti kuning pastel, biru langit, dan hijau mint. 

Raya duduk di tengah-tengahnya, buku sketsa terbuka di pangkuannya, sementara Bima, Lila, dan Dino duduk mengelilinginya, masing-masing memegang "kartu warna" pilihan mereka.

"Oke, jadi kita mulai dari ruang tamu dulu ya." Raya memulai, suaranya penuh semangat. "Ibu maunya warna yang netral tapi hangat. Biar sofa beige kita nanti kelihatan bagus. Bagaimana kalau warna 'Warm Sand' ini?" Ia mengangkat sebuah kartu warna krem kecokelatan.

Bima menatap kartu itu. "Boleh juga. Tapi agak membosankan nggak sih, Bu? Kalau pakai yang ini, misalnya, warna 'Soft Peach'? Sedikit ada sentuhan hangatnya." Ia menunjuk warna oranye pucat.

"Hmm, Soft Peach bagus sih, Yah. Tapi kalau nanti kita pasang panel kayu di dinding, warnanya jadi nggak kelihatan menonjol dong?" Raya merenung. "Bagaimana kalau kita pakai 'Warm Sand' untuk dinding utama, terus di bagian panel kayu kita kasih aksen warna lain?"

Lila, yang sedari tadi sibuk membandingkan warna biru, tiba-tiba menyahut. "Ibu, aku kan sudah bilang, aku mau kamar aku warna hijau mint. Yang ini, Bu!" Ia menunjukkan kartu warna hijau lembut. "Biar kayak taman di dalam kamar."

"Iya, Kak Lila, itu bagus sekali." Raya mengangguk. "Ibu suka idenya. Kalau hijau mint, nanti kita bisa padukan dengan putih bersih untuk bagian atas dindingnya, biar kesannya lapang."

Dino, yang sedari tadi hanya melihat-lihat warna merah dan biru, tiba-tiba menunjuk sebuah kartu warna kuning cerah. "Ini, Bu! Warna ini! Kayak matahari!"

Raya tertawa. "Wah, Dino suka warna kuning terang ya? Itu warna yang bagus untuk ceria. Tapi kalau untuk seluruh dinding ruang keluarga, apa nggak terlalu mencolok, Sayang?"

"Tapi kan biar rumah kita nggak gelap, Bu! Biar Dino bisa main bola di dalam rumah nggak takut kesandung!" Dino membela diri.

Bima tersenyum. "Ide Dino bagus juga, Sayang. Mungkin kita bisa pakai warna kuning cerah itu untuk satu sisi dinding saja, sebagai aksen. Jadi tidak terlalu dominan, tapi tetap ceria."

Raya mengamati pilihan warna-warna itu. Setiap warna memiliki bahasanya sendiri, setiap corak memiliki emosinya. 

Kuning cerah Dino adalah tawa riang anak-anak. Hijau mint Lila adalah ketenangan dan harapan. Abu-abu Bima adalah logika dan kekuatan. Dan krem hangatnya, adalah pelukan nyaman yang ia dambakan. 

Rumah ini akan menjadi sebuah kanvas raksasa, di mana setiap warna akan menjadi nada dalam simfoni visual mereka. Ia membayangkan bagaimana dinding-dinding itu akan menyerap cahaya, memantulkan suasana, dan menciptakan atmosfer yang berbeda di setiap ruangan. 

Lihat selengkapnya