Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #15

Bab 15. Sentuhan Personal Lila & Dino

Aroma cat yang samar mulai tercium di udara, bercampur dengan aroma tanah basah sisa hujan semalam. Lokasi pembangunan kini terlihat lebih rapi, dinding-dinding bata merah yang tadinya polos kini sebagian telah dilapisi warna dasar putih. 

Hari ini adalah hari besar bagi Lila dan Dino: hari di mana mereka akan mulai mengecat kamar mereka sendiri. Raya dan Bima mengawasi dengan sabar, sementara Pak Jono sesekali memberikan arahan teknis tentang cara mengaplikasikan cat agar hasilnya rapi.

"Kak Lila, jangan lupa pakai sarung tangan ya," pesan Raya, menyerahkan sepasang sarung tangan plastik tipis pada putrinya. "Nanti tangannya kotor semua."

Lila mengangguk patuh, memakai sarung tangannya dengan hati-hati. Ia memegang kuas besar yang telah ia celupkan ke dalam cat hijau mint. Wajahnya menunjukkan konsentrasi penuh, seolah ia sedang mengerjakan sebuah lukisan mahakarya.

"Ibu, ini kalau ada yang sedikit melenceng dari garis, nggak apa-apa kan?" tanya Lila, sedikit ragu.

Raya tersenyum, mengusap pipi Lila yang belum terkena cat. "Nggak apa-apa, Sayang. Kan ini kamar kamu. Yang penting kamu senang. Nanti kalau ada yang kurang rapi, Ibu bantu poles sedikit."

Di sisi lain menorehkan warna pada dinding kamar impian mereka. Ini bukan sekadar mengecat. 

Ini adalah proses menanamkan cinta, jejak personal yang akan membuat kamar itu benar-benar terasa 'milik mereka'. Seperti seorang komposer yang sedang menambahkan instrumen unik ke dalam orkestranya.

Raya dan Bima membiarkan anak-anak mereka mengekspresikan diri, menciptakan nada-nada pribadi dalam simfoni rumah mereka. Setiap coretan cat yang tak disengaja, setiap percikan warna yang liar, adalah bagian dari melodi spontan yang tak terduga.

Pak Jono sesekali datang untuk memeriksa. "Wah, semangat sekali ini putra-putri Bapak Bima dan Ibu Raya," katanya sambil tersenyum melihat Dino yang sibuk mengoleskan cat merah di dinding naga. "Ini nanti kalau sudah besar, bisa jadi pelukis cat dinding profesional ini."

"Hahaha, bisa jadi, Pak." Bima menimpali, sambil membantu Dino membersihkan percikan cat di bajunya. "Tapi harus lebih rapi sedikit ya, Nak. Biar dinding naganya nggak kelihatan habis bertarung sama kucing."

Dino tertawa. "Iya, Ayah. Dino janji nanti lebih hati-hati."

Lila, yang kini telah selesai dengan dinding hijaunya, mulai membantu Dino dengan dinding merahnya. Ia dengan hati-hati menorehkan kuas di dekat jendela, mencoba membuat garis yang lebih presisi.

"Kak Lila, bantu Dino dong! Naganya mau terbang!" pinta Dino.

"Iya, Dino. Sini, Kakak bantu rapikan sedikit." Lila mengambil kuas lain, membantu Dino membuat bentuk api yang lebih jelas di sekitar kepala naga.

Lihat selengkapnya