Aroma cat yang masih samar tercium di kamar anak-anak terasa terusik oleh mendung baru yang menggantung di benak Raya.
Seminggu setelah menyelesaikan pengecatan kamar mereka, kabar tak sedap datang dari Pak Jono. Kali ini bukan soal cuaca atau kelangkaan material dasar, melainkan tentang komponen krusial yang tak terduga: sistem perpipaan dan sanitasi.
"Jadi, Bapak Ibu." Pak Jono memulai dengan nada berat, menunjukkan beberapa pipa PVC yang retak dan sambungan yang tampak kurang kokoh. "Setelah kami periksa lebih teliti, ternyata ada beberapa bagian pipa yang kualitasnya kurang memadai. Mungkin karena faktor usia barang atau cara penyimpanannya. Ini kalau tidak segera diganti, nanti bisa bocor di kemudian hari. Kan repot kalau harus bongkar lagi."
Raya menatap pipa-pipa itu dengan cemas. Ia tidak begitu paham detail teknisnya, namun nada suara Pak Jono jelas menunjukkan bahwa ini masalah serius.
Bima segera memeriksa pipa-pipa tersebut, mengangguk-angguk. "Benar juga kata Pak Jono. Sambungannya ini kelihatannya kurang kuat. Kalau tertekan air nanti bisa pecah. Kita harus ganti ini semua ya, Pak?"
"Iya, Pak. Ini perlu diganti baru. Dan ini akan menambah biaya lagi, Pak. Sekitar lima belas juta untuk semua material dan upah pemasangannya." Pak Jono menjelaskan, menatap Bima dan Raya dengan ragu.
Lima belas juta. Angka itu terngiang di telinga Raya. Rasanya baru saja mereka bernapas lega setelah mengatasi masalah semen dan pasir, kini datang lagi pukulan telak.
"Lima belas juta?" Raya bergumam pelan, tangannya refleks menyentuh kalung di lehernya. "Ya ampun, Yah ... itu kan lumayan sekali. Itu bisa buat beli sofa beige impian Ibu, atau mungkin untuk memperbaiki taman kecil Dino."
Bima menatap Raya, senyumnya mencoba menenangkan, namun matanya juga menunjukkan kekhawatiran. "Kita perlu cari solusinya, Sayang. Ini kan menyangkut kenyamanan dan keamanan rumah kita jangka panjang. Kalau sampai bocor nanti malah lebih mahal biayanya."
Raya merasa seperti sedang mendengarkan nada sumbang yang tiba-tiba muncul di tengah simfoni yang mulai harmonis.
Krisis anggaran kedua ini terasa seperti disonansi yang mengganggu, memaksa mereka untuk segera mencari akord penyeimbang.
Ia membayangkan rumah impiannya, yang tadinya mulai terbayang jelas dengan warna-warna ceria dan sentuhan personal, kini kembali tertutup kabut ketidakpastian finansial.
Pipa-pipa yang retak itu terasa seperti retakan kecil dalam impiannya, yang mengancam kestabilan keseluruhan bangunan.
"Pak Jono, apakah ada alternatif material yang lebih terjangkau tapi tetap berkualitas?" tanya Bima, berusaha mencari celah. "Mungkin ada merek lain yang harganya lebih bersahabat?"