Deru gergaji listrik yang halus dan bunyi ketukan palu yang presisi kini menjadi melodi dominan di lokasi pembangunan. Dinding-dinding rumah sudah berdiri kokoh, beberapa di antaranya bahkan sudah rampung dicat dasar putih.
Kini, giliran kusen-kusen jendela dan pintu yang mulai dipasang. Mereka adalah mata dan mulut dari sebuah rumah, jendela yang akan membingkai dunia luar dan pintu yang akan menyambut setiap cerita. Raya, Bima, serta Lila dan Dino tiba di lokasi, disambut pemandangan yang membuat mereka terpana.
"Ayah! Lihat!" Dino berseru, menunjuk ke arah lubang-lubang di dinding yang kini sudah terisi kusen aluminium berwarna cokelat tua. "Sudah ada jendelanya!"
Lila, dengan antusiasme yang lebih terkontrol, mengangguk. "Bu, itu nanti jendela kamar aku ya? Yang besar itu?" Ia menunjuk ke arah jendela di salah satu sudut rumah.
Raya tersenyum, matanya berbinar. Ia merasakan debaran di dada yang tak bisa dijelaskan. "Iya, Sayang. Itu nanti jendela kamar kamu. Dan yang ini, ini jendela ruang tamu kita."
Raya melangkah mendekat, mengusap kusen jendela ruang tamu dengan lembut. Jendela itu, dengan ukurannya yang lebar dan desain minimalisnya, persis seperti yang ia impikan.
"Bagaimana, Pak Bima, Bu Raya?" sapa Pak Jono, menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Sudah kelihatan kan bentuk rumahnya? Kusen pintu dan jendela sudah hampir selesai dipasang semua. Tinggal beberapa lagi di bagian belakang."
"Bagus sekali, Pak Jono! Sangat rapi," puji Bima, matanya memeriksa setiap detail pemasangan. "Kusennya juga kokoh. Ini pakai aluminium yang kemarin kita diskusikan ya?"
"Betul, Pak. Yang kualitasnya bagus dan tahan lama," jawab Pak Jono bangga. "Tukang-tukang saya ini memang sudah ahli kalau soal pasang kusen. Presisi semua."
Raya menatap jendela ruang tamu itu. Ia bukan sekadar lubang di dinding yang ditutupi kaca. Ia adalah bingkai untuk melihat dunia, sebuah kanvas kosong yang akan diisi dengan pemandangan berganti: pohon-pohon yang menari ditiup angin, anak-anak yang bermain di halaman, tetangga yang lewat.
Ia adalah sepasang mata rumah, yang akan melihat tawa, air mata, dan setiap momen kehidupan yang tercipta di dalamnya.
Jendela ini, ia menyadari, adalah melodi yang mengundang, nada yang membuka diri pada dunia luar, sekaligus melindungi dunia di dalamnya.
Ia adalah bagian dari simfoni mereka, yang kini mulai memiliki intonasi dan warna visual.
"Mama, ini pintu masuknya nanti yang mana ya?" tanya Dino, matanya beralih ke kusen pintu utama yang kini sudah terpasang.
"Yang ini, Sayang." Raya menunjuk pintu utama. "Nanti pintunya kita pasang kayu jati. Biar kuat dan kelihatannya mewah."
"Mewah itu apa, Bu?" Dino bertanya dengan polos.
"Mewah itu artinya bagus sekali, Sayang." Bima menimpali, menggendong Dino. "Nanti pintunya besar, jadi kalau ada tamu datang, mereka bisa langsung masuk dengan gagah!"
"Ayah, nanti aku mau pasang gembok yang besar sekali di pintu kamarku!" seru Dino. "Biar nggak ada yang bisa masuk!"
Lila menggeleng-gelengkan kepala. "Dino, kalau pakai gembok besar, nanti kamu sendiri yang susah masuk kalau kuncinya hilang. Lagipula, kan nggak boleh ada rahasia di rumah kita."