Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #18

Bab 18. Malam di Lokasi

Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa aroma cat yang mulai menguar. 

Lampu-lampu sorot yang dipasang sementara di beberapa titik menerangi kerangka rumah yang kini hampir utuh, menciptakan bayangan-bayangan dramatis di dinding-dinding yang baru dicat dasar. 

Di tengah suasana yang agak misterius namun magis ini, keluarga Raya duduk melingkar di atas tikar plastik yang tergelar di lantai ruang tamu. Piring-piring nasi goreng dan ayam goreng yang mereka bawa dari rumah tertata rapi di atas beberapa kotak bekas.

"Wah, gelap ya, Yah kalau malam di sini," ujar Dino, matanya berbinar menatap langit-langit atap yang kini mulai tertutup rangka. Ia memegang sebuah nasi goreng dengan antusias.

"Iya, Sayang. Makanya Ayah pasang lampu sorot biar nggak terlalu gelap." Bima menjawab, sambil menyodorkan ayam goreng pada Lila. "Tapi gelap-gelap begini, rasanya jadi lebih seru ya makannya?"

Lila mengangguk, sesekali menoleh ke jendela yang kusennya sudah terpasang. "Iya, Ayah. Rasanya kayak lagi camping di rumah sendiri."

Raya tersenyum. Ide makan malam di lokasi ini datang dari Bima, sebagai cara untuk merayakan momen istimewa ini. Momen di mana rumah mereka, yang tadinya hanya berupa impian dan gambar, kini mulai memiliki bentuk fisik yang nyata.

"Aku suka makan di sini, Ma!" seru Dino, mulutnya penuh nasi goreng. "Nanti kita sering-sering makan di sini ya? Sambil lihat bintang lewat jendela?"

"Ide bagus, Dino." Raya menjawab, mengusap pipi putranya yang sedikit belepotan. "Tapi ingat, ini kan masih lokasi pembangunan. Nanti kalau sudah jadi rumahnya, kita baru bisa makan di sini tiap hari."

Raya memandang sekeliling. Dinding-dinding putih polos itu kini diterangi cahaya lampu sorot, menciptakan suasana yang hangat dan intim. 

Ia membayangkan bagaimana nantinya ruangan ini akan terisi dengan perabot, tawa, dan cerita. Di sinilah nanti ia akan duduk bersama Bima, ditemani secangkir teh hangat, memandang keluar jendela, mendengarkan celoteh anak-anak mereka. 

Lokasi ini, yang tadinya hanyalah lahan kosong, kini terasa seperti sebuah kanvas yang siap dilukis dengan kehidupan. Kehangatan makan malam sederhana ini adalah melodi pembuka, sebuah nada awal dari simfoni kehidupan yang akan segera dimainkan di rumah ini.

"Yah, kamu ingat nggak waktu kita pertama kali lihat lahan ini?" Raya bertanya pada Bima, suaranya lembut. "Rasanya dulu jauh sekali dari bayangan rumah idaman kita."

Bima tersenyum, menatap Raya. "Ingat sekali, Sayang. Dulu penuh semak belukar, tanahnya becek kalau hujan. Tapi Ibu sudah bisa membayangkan rumahnya akan seperti apa."

Lihat selengkapnya