Pagi itu, di sudut halaman depan rumah yang masih berupa hamparan tanah kosong di samping dinding yang baru dicat, sebuah drama kecil sedang berlangsung.
Dino, dengan topi pantai lebar miliknya yang sudah sedikit lusuh, memegang sekop mainan berwarna kuning, wajahnya serius.
Di sampingnya, Bima dengan kaus dan celana pendeknya, sibuk mencangkul tanah dengan sekop sungguhan. Beberapa bibit tomat, cabai, dan kangkung tergeletak rapi di samping mereka, menunggu untuk ditanam.
Sementara itu, Lila duduk di teras yang belum sepenuhnya berubin, membaca buku komik, sesekali melirik ke arah Ayah dan adiknya.
"Ayah, ini nanti bibit cabainya bisa tumbuh jadi naga api kan?" tanya Dino dengan mata berbinar, mencoba menggali lubang yang ukurannya jauh lebih besar dari bibit cabai itu sendiri.
Bima terkekeh, tangannya membantu merapikan galian Dino. "Naga api sih nggak, Nak. Tapi cabai ini nanti bisa jadi pedas sekali, seperti semburan api naga. Jadi kalau makan, rasanya panas di mulut."
"Wah! Pedas seperti naga!" Dino bersorak, semakin bersemangat. "Berarti Dino harus makan cabai yang banyak biar kuat seperti naga!"
"Eh, jangan begitu, Nak." Raya yang baru saja keluar membawa segelas air dingin, buru-buru menyela. "Nanti perut Dino sakit. Cabai itu sedikit saja sudah cukup pedas."
Raya tersenyum, mengamati adegan di depannya. Tanah kosong itu, yang tadinya hanya sebidang lahan tak terpakai, kini mulai diisi dengan kehidupan.
Tangan-tangan Bima yang kuat dan sabar, serta antusiasme Dino yang tak terbatas, sedang menanamkan sebuah janji.
Taman kecil ini, ia menyadari, bukan hanya tentang sayur-mayur yang akan tumbuh. Ia adalah sebuah melodi baru dalam simfoni rumah mereka, nada yang berbau tanah basah, dedaunan segar, dan janji akan panen.
Ia adalah sebuah akord hijau yang menenangkan, yang akan melengkapi aransemen beton dan kayu yang telah mereka bangun.
"Ma, ini kangkungnya nanti bisa setinggi Ayah nggak?" tanya Dino, menunjuk bibit kangkung yang mungil.
"Nggak bisa, Sayang." Raya tertawa. "Kangkung itu kan tumbuhnya menjalar. Tapi nanti bisa jadi banyak sekali. Bisa kita masak tumis kangkung kesukaan Ayah."
"Aku nggak suka tumis kangkung." Lila tiba-tiba menyahut dari teras. "Rasanya kayak makan rumput."
"Kak Lila! Ini kan sayur sehat!" Dino membalas, sambil mencoba menancapkan bibit tomat ke dalam lubang. Namun, bibit itu malah jatuh miring.
Bima segera membantu. "Hati-hati, Nak. Bibit itu kan masih kecil, dia butuh dipegang dengan lembut. Begini caranya."
Bima menunjukkan bagaimana cara menanam bibit dengan benar, menimbunnya dengan tanah secara perlahan.
"Ayah, ini nanti kalau tomatnya sudah merah, kita bisa langsung makan kan?" tanya Dino.