Ruang tamu yang tadinya hanya berupa dinding putih polos dan lantai abu-abu kini mulai memiliki karakter.
Raya, dengan buku sketsa dan meteran di tangan, sedang mengukur dinding di sebelah jendela besar. Di hadapannya, tergeletak beberapa palet kayu bekas yang sudah dibersihkan Bima, serta beberapa kaleng cat warna-warni yang tersisa dari proyek pengecatan kamar anak-anak.
"Yah, Ibu pikir, daripada kita beli rak buku yang mahal, mending kita bikin sendiri dari palet kayu ini ya," ujar Raya, sambil menggambar sketsa kasar di buku sketsanya. "Nanti kita cat warna senada sama dinding ruang tamu, biar kesannya menyatu."
Bima, yang sedang membantu menata beberapa bingkai foto di dinding lain, menoleh. "Ide bagus, Sayang. Aku siap bantu kalau perlu tenaga buat pasang atau amplas. Tapi pastikan kuat ya, Bu. Nanti kalau bukunya terlalu banyak, raknya ambruk."
"Tenang saja, Yah. Ibu sudah pelajari cara menyambungnya biar kuat." Raya menjawab dengan percaya diri. "Lagipula, kan bukunya nggak akan sebanyak dulu. Nanti banyak yang kita donasikan atau simpan di gudang."
Lila dan Dino, yang sedang bermain di sudut ruangan, mendekat.
"Ibu mau bikin rak buku dari kayu bekas?" tanya Lila.
"Boleh Dino bantu nggak? Dino mau cat bagian depannya biar jadi keren!" sambung Dino antusias.
"Tentu saja boleh, Sayang." Raya tersenyum. "Tapi harus hati-hati ya pakai catnya. Jangan sampai kena bajunya Ayah lagi."
Dino tertawa. "Ayah kan sudah bilang, baju itu buat dipakai! Nanti Dino cat yang bagus biar bajunya Ayah jadi makin keren!"
Raya memandang palet-palet kayu bekas itu. Bagi sebagian orang, mungkin hanya tumpukan kayu tak berguna. Namun di mata Raya, ia adalah kanvas kosong, potensi tersembunyi yang siap diubah menjadi sesuatu yang indah dan fungsional.
Ia membayangkan bagaimana rak buku sederhana itu akan terbentuk, diisi dengan buku-buku cerita, bingkai foto keluarga, dan mungkin beberapa kerajinan tangan anak-anak.
Rak itu bukan hanya tempat penyimpanan; ia adalah sebuah melodi personal yang akan menambah harmoni pada ruangan.
Desain minimalis ini, ia menyadari, bukan tentang kesederhanaan yang membosankan, tetapi tentang efisiensi, kreativitas, dan sentuhan jiwa.
Proses pembuatan rak buku dari palet kayu pun dimulai. Bima membantu mengamplas permukaan kayu agar halus dan aman, sementara Raya mulai merangkai dan menyambung palet-palet tersebut menggunakan baut dan lem kayu. Lila dan Dino bertugas mengaplikasikan cat dasar pada bagian-bagian yang sudah siap.
"Mama, ini bagian bawahnya dikasih warna apa?" tanya Dino, memegang kuas yang sudah dicelupkan ke cat putih.
"Kita buat warna putih saja ya, Dino. Biar senada sama dinding. Nanti bagian atasnya baru kita beri warna lain, sesuai idemu," jawab Raya. Ia teringat ide Dino untuk membuat aksen warna merah di dinding kamarnya. Mungkin ide serupa bisa diaplikasikan di rak buku ini.
"Kalau bagian atasnya, Dino mau warna merah naga!" seru Dino antusias. "Terus ada gambar api-apinya sedikit!"