Udara di rumah lama mereka terasa berbeda hari ini. Bukan lagi aroma masakan Ibu, atau wangi buku-buku Lila, atau jejak samar aroma cat dari kamar anak-anak.
Hari ini, udara dipenuhi dengan aroma sabun pembersih, lap basah, dan sedikit rasa haru yang menggantung.
Karton-karton besar tertumpuk rapi di berbagai sudut ruangan, siap diisi dengan barang-barang yang akan dibawa ke rumah baru. Raya, Bima, Lila, dan Dino bergerak sibuk, masing-masing dengan tugasnya.
"Mama, ini boneka beruang Dino yang dulu beli pas di Bandung itu, mau dibawa nggak?" tanya Lila, memegang sebuah boneka beruang cokelat yang sedikit usang, matanya sudah mulai pudar.
Dino, yang sedang memilah koleksi mobil-mobilannya, menoleh. Ia menatap boneka itu sejenak, lalu menggeleng. "Nggak usah, Kak. Dino kan sudah punya mobil naga sekarang."
Raya tersenyum. Ia mengambil boneka itu. "Sayang sekali ya, harus disumbangkan. Padahal ini teman tidur Dino waktu kecil."
Ia mengusap lembut bulu boneka itu. "Tapi nggak apa-apa, nanti kita fotokan dulu ya, buat kenang-kenangan."
Raya merasakan setiap barang yang ia pegang memiliki cerita. Setiap goresan di dinding, setiap noda di lantai, adalah catatan dari babak-babak kehidupan mereka di rumah ini.
Membungkus barang-barang ini dalam kardus terasa seperti menutup lembaran buku harian, siap untuk memulai babak baru.
Rumah lama ini, yang pernah menjadi saksi bisu tawa pertama Dino, tempat Lila belajar membaca, dan tempat mereka berlindung dari badai kehidupan, kini harus mereka tinggalkan.
Ada sedikit kesedihan, namun juga rasa terima kasih yang mendalam. Rumah ini adalah nada-nada masa lalu, yang telah membentuk harmoni indah dalam simfoni keluarga mereka.
Bima sedang membereskan tumpukan majalah desain interior lama milik Raya. "Sayang, ini majalah-majalahmu mau dibawa semua? Lumayan tebal lho ini."
Raya mendekat. "Wah, itu banyak sekali ide desain di sana, Yah. Tapi memang terlalu banyak kalau dibawa semua. Kita ambil yang paling penting saja ya, sisanya kita sumbangkan saja ke perpustakaan atau taman baca."
Ia mengambil salah satu majalah, membaliknya. "Wah, ini ada desain dapur idaman Ibu dulu. Dapur dengan island dan jendela besar. Kapan-kapan kita coba buat lagi ya, di rumah baru."
Bima tersenyum. "Tentu, Sayang. Kita akan terus bermimpi dan mewujudkannya."