Hawa dingin malam merayap masuk melalui jendela-jendela yang kini sudah terpasang kokoh, memeluk ruang tamu yang masih kosong.
Hanya ada satu bohlam darurat yang menggantung di tengah ruangan, memancarkan cahaya kuning remang-remang yang membuat bayangan-bayangan menari di dinding.
Di tengah kegelapan yang menanti, Raya berdiri mematung, tangannya menggenggam erat tangan Bima.
Lila dan Dino berdiri di samping mereka, mata mereka yang berbinar menatap ke arah sakelar utama yang terletak di sudut ruangan.
Pak Jono, dengan senyum tipis di wajahnya, sudah siap di depan panel listrik.
"Oke, Bapak Bima, Ibu Raya." Pak Jono memulai, suaranya tenang namun ada nada antusiasme yang tersirat.
"Semua instalasi sudah dicek dua kali. Dari PLN juga sudah disetujui. Jadi, ini saatnya."
Dino memekik pelan, tangannya mencengkeram erat baju Lila. "Ayah! Apa nanti lampunya bisa nyala semua? Jangan cuma satu doang kayak lampu di tenda waktu camping itu!"
Lila menepuk pelan kepala adiknya. "Jelas nyala semua, Dino. Ini kan rumah, bukan tenda."
Bima menatap Raya, senyumnya merekah. "Siap, Pak Jono. Silakan."
Pak Jono mengangguk. Dengan gerakan mantap, tangannya menekan sakelar utama.
Klik.
Dalam sepersekian detik, kegelapan malam di dalam rumah itu terenyahkan. Lampu-lampu di setiap ruangan—di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, hingga kamar tidur—serentak menyala.
Cahaya putih terang membanjiri setiap sudut, mengusir bayangan, dan menyingkap detail-detail rumah yang selama ini hanya terlihat samar dalam remang.
Dinding-dinding yang telah dicat, lantai keramik yang bersih, kusen jendela yang kokoh, semuanya kini tampak jelas, hidup, dan nyata.
"Wahhhhhh!" Dino menjerit kegirangan, melompat-lompat di tempat, tangannya menunjuk ke setiap lampu yang menyala. "Ayah! Lampunya banyak sekali! Kayak bintang di dalam rumah!"
Lila berdiri diam, mulutnya sedikit terbuka. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan, menyerap keindahan cahaya itu. "Bu, ini rasanya kayak ... rumahnya jadi hidup," bisiknya, suaranya penuh kekaguman.
Raya tak bisa menahan air matanya. Ia merasakan kehangatan yang meluap di dadanya, bukan hanya karena cahaya lampu, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Bima.