Hari itu terasa seperti perpaduan antara kesibukan yang luar biasa dan keharuan yang mendalam. Pagi-pagi buta, sebuah truk bak terbuka sudah terparkir di depan rumah lama mereka.
Bima dan beberapa kerabat yang membantu, sibuk mengangkat kardus-kardus yang telah disiapkan Raya. Suara derit roda troli, tumpukan kardus yang saling bergesekan, dan teriakan instruksi dari Bima, menciptakan simfoni kepindahan yang riuh rendah.
Raya mengawasi dari teras, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia memegang sebuah kotak kecil yang berisi barang-barang kesayangannya: beberapa buku, foto-foto lama, dan kalung berlian peninggalan Nenek yang sudah ia tebus. Di sampingnya, Lila dan Dino tampak bersemangat sekaligus sedikit bingung.
"Ibu, boneka Dino yang dulu itu kok nggak dibawa?" tanya Dino, memegang sebuah mobil-mobilan baru yang ia pilih untuk dibawa.
Raya tersenyum, mengusap kepala Dino. "Yang boneka beruang itu? Kan sudah kita janji mau disumbangkan, Sayang. Biar anak lain yang belum punya boneka bisa senang juga."
Dino mengangguk, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Terus, rumah yang ini nanti kosong ya, Bu?"
"Iya, Sayang. Nanti rumah ini akan kita titipkan ke Pak RT, siapa tahu ada yang butuh tempat tinggal sementara." Raya menjelaskan. "Tapi kita akan tetap merawatnya kok. Nanti kita bisa datang sesekali untuk melihatnya."
Raya merasakan rumah lama ini seperti sebuah melodi yang perlahan memudar, meninggalkan gema-gema indah di udara. Setiap barang yang diangkut keluar terasa seperti mengeluarkan sebagian dari jiwa mereka dari bangunan ini.
Namun, ia tahu, jiwa mereka tidak akan benar-benar pergi. Ia akan tersimpan dalam kenangan, dalam cerita, dan dalam beberapa barang pilihan yang akan menemani mereka ke rumah baru.
Perpindahan ini adalah sebuah transisi, sebuah penutupan babak yang penting, namun juga pembukaan yang penuh harapan. Rumah lama adalah simfoni masa lalu, dan kini mereka siap memainkan melodi baru di panggung yang berbeda.
Bima kembali dari dalam rumah, membawa sebuah kardus besar bertuliskan "Peralatan Dapur - Pecah Belah". "Semua sudah beres, Sayang. Tinggal kita naikkan ke truk."
"Ayo, Dino, Kak Lila! Bantu Ayah angkat kardus kecil ini!" ajak Bima.
Lila dan Dino segera berlari, membantu Bima membawa beberapa kardus yang lebih ringan. Tawa mereka terdengar riang, seolah proses pindahan ini adalah sebuah petualangan seru.
"Ayah, nanti di rumah baru, Dino mau kamar yang ada kolam bolanya ya!" seru Dino, masih belum menyerah pada impiannya.