Simfoni Rumah Kita

riwidy
Chapter #24

Bab 24. Makan Malam Pertama

Aroma pita perekat, debu karton, dan bau cat segar yang masih samar-samar tercium di udara kini perlahan terkalahkan oleh aroma gurih bawang merah dan margarin yang mengepul. 

Lampu-lampu di seluruh penjuru rumah menyala terang, menerangi setiap sudut yang kini terasa lebih hidup setelah seharian dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas pindahan. 

Tumpukan kardus masih berserakan di beberapa ruangan, beberapa berlabel "Peralatan Dapur", "Baju Dino", atau "Buku-Buku"—namun keos akibat barang-barang yang belum tertata itu mendadak surut saat malam tiba. 

Suasana ruang keluarga terasa amat berbeda malam ini.

Di tengah lantai porselen yang dingin dan masih beralaskan tikar plastik berwarna hijau, tergelar piring-piring berisi nasi goreng buatan Raya yang aromanya memanggil-manggil isi perut yang sudah lapar sejak sore.

Ada juga ayam goreng renyah kesukaan Bima, serta beberapa lauk sederhana lainnya seperti irisan mentimun dan kerupuk. 

Lilin-lilin kecil tertancap di atas sebuah kue sederhana yang dibeli dari toko roti terdekat, menciptakan cahaya temaram yang hangat dan memantulkan bayangan lembut di dinding putih yang masih polos.

"Selamat makan malam di rumah baru kita!" seru Bima, memecah keheningan dengan suara bass-nya yang hangat sembari mengangkat gelas air putihnya tinggi-tinggi. 

"Untuk Raya, yang sudah berjuang luar biasa mewujudkan rumah impian ini. Untuk Lila dan Dino, yang sudah sabar menemani Ayah dan Ibu melewati setiap prosesnya—dari mengemas barang sampai lelah menunggui tukang. Dan untuk rumah baru kita ini, semoga selalu membawa kebahagiaan dan keberkahan."

"Prost!" seru Dino, ikut mengangkat gelas plastik kecilnya yang bergambar kartun kesukaannya. "Untuk rumah naga Dino!"

Lila tersenyum renyah, ikut mengangkat gelasnya. "Untuk rumah kita, di mana kita bisa lihat bintang dari jendela kamar."

Raya tersenyum, matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia memandang sekeliling, pada wajah-wajah orang terkasihnya yang kini bersinar terang di bawah pendar lampu-lampu rumah baru mereka. Segala rasa lelah yang menumpuk di pundaknya seolah menguap begitu saja.

"Terima kasih, Yah," bisiknya pada Bima sembari menyentuh lengan suaminya. "Ini sempurna."

Raya merasakan momen ini bagaikan sebuah simfoni yang mencapai klimaksnya. Alunan musik yang lembut dari lilin yang berkedip, harmoni tawa anak-anak, dan nada-nada syukur dari hatinya, semuanya berpadu sempurna. 

Makan malam sederhana ini terasa begitu istimewa, lebih dari sekadar santapan pemuas lapar. Ia adalah sebuah perayaan, sebuah penanda tegas dimulainya sebuah babak baru dalam hidup mereka. Setiap suapan nasi goreng terasa seperti mengisi kekosongan dalam rumah ini dengan kehangatan dan cinta.

"Enak sekali, Bu!" puji Bima, mengambil suapan kedua dengan sangat lahap. "Nasi gorengnya mantap!"

"Rasanya kayak makan di restoran bintang lima, Bu!" Dino menambahkan, mulutnya penuh nasi hingga pipinya mengembung. "Tapi nggak ada bintangnya di sini."

Lihat selengkapnya