Meski mulutnya berkata iya, hatinya tidak pernah benar-benar menyetujuinya. Ia sudah berusaha. Berkali-kali. Namun, perasaan itu tetap kembali, bahkan hampir setiap saat.
Masih ditemani kesendirian dan rasa sepi, Vana duduk menghadap selembar kertas kosong dengan sebuah pena di tangannya. Belum ada satu pun coretan di atas kertas itu.
Entah apa yang sebenarnya ingin ia tuliskan. Lagi-lagi, pikirannya dipenuhi sebuah angan yang mustahil. Seandainya ia bisa menulis takdirnya sendiri, mungkin ia akan membuat semua orang yang ia sayangi tetap hidup bersamanya.
Beberapa bulan lalu, sebuah tragedi mengubah seluruh perasaannya. Seseorang yang sangat ia sayangi telah pergi untuk selamanya. Hubungan itu memang baru terjalin selama dua minggu, tetapi kenangan yang ditinggalkannya membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dilupakan.
Renaldi Aditya Vardhana. Salah satu manusia yang pernah menjadi bagian dari hidup seorang Widya Revana. Nama itu kembali membuat Vana bertanya-tanya tentang takdir yang telah dituliskan untuknya.
Kalau memang harus ada yang pergi, kenapa nggak gue aja? Biar gue nggak akan pernah ngerasa kehilangan, gumam gadis itu sembari menatap datar kertas kosong di hadapannya.
Matanya seolah melamun, tetapi telinganya terus menangkap suara detak jam dinding yang mengiringi kesunyian hatinya saat itu.
Sama kayak hidup gue sekarang, batinnya getir. Gue sangat mau menulis takdir sendiri di kertas kosong ini, tapi gue nggak tahu harus mulai dari mana. Kertas kosong ini persis kayak isi kepala gue saat ini—benar-benar kosong.
✦
Setelah semua yang terjadi, manusia tidak akan pernah bisa memutar kembali waktu. Meski berat hati, Vana sadar bahwa bagaimanapun juga, hidup harus tetap berjalan—begitu pula dengan dirinya.
Awal Februari 2020, Vana sudah duduk di bangku kelas sebelas dan harus menjalani salah satu program sekolah, yaitu magang. Vana ditempatkan bersama empat orang teman sekelasnya, salah satunya adalah sahabatnya, Shella.
Pada awalnya, kegiatan tersebut berjalan lancar. Namun, baru sebulan berlalu, sebuah pandemi bernama COVID-19 tiba-tiba melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Program magang terpaksa dihentikan. Para siswa dan pekerja dirumahkan. Sejak saat itu, seluruh kegiatan belajar mengajar beralih ke sistem daring.
Beberapa saat setelah mengikuti pembelajaran secara daring, Vana mulai merasa bosan. Ia berpikir untuk menelepon Shella sekadar berbincang-bincang. Namun, saat sedang menggeser layar ponselnya untuk mencari kontak Shella, sebuah pesan muncul.
08xx xxx xxx
Hai, Revana.
Vana
Iya?
Siapa?
08xx xxx xxx
Sebentar lagi ya.
Vana
Ini siapa?
08xx xxx xxx
Masih suka rambutan?
Vana
?
Apaan sih, nggak jelas, ucap Vana ketika tidak lagi mendapat balasan dari pesan tersebut.
Vana mengabaikan pesan itu. Ia berpikir bahwa pesan tersebut hanya berasal dari orang iseng dan memilih untuk kembali menelepon Shella.