Simfoni Waktu dan Rasa

KAMISRIATI LEVI GAYATRI
Chapter #2

Bagian 02

Di suatu sore, masih di tempat yang sama. Benar-benar membosankan. Padahal, Vana baru saja ingin mengenal dunia baru, namun pandemi merusak segalanya.

Terlihat Andy yang sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah buku di tangannya. Vana mendekat dan mengambil tempat di sampingnya.

“Pa,” panggil Vana.

Andy berdeham tanda mendengar.

“Vana bosan, Pa. Di rumah terus,” keluh Vana.

“Kamu kira Papa nggak? Terus mau ngapain?” tanya Andy, beralih menatap Vana.

“Sanggar tari punya Om Rian masih jalan, kan?” tanya Vana.

Andy seperti berpikir dan berkata, “Masih sebenarnya, tapi kan lagi COVID. Kenapa?”

“Sebenarnya Vana mau latihan nari lagi, Pa. Vana nggak bisa gini terus. Ngurung diri gini malah bikin pikiran makin nggak sehat,” ucap Vana.

“Tapi kalau di luar, fisik kamu yang nggak sehat. Kamu tuh punya asma, lho,” ujar Andy.

“Tapi kan udah nggak pernah kambuh,” jawab Vana.

“Tapi dengan kondisi kek gini, nggak menutup kemungkinan, kan? Ini emang berbahaya banget buat orang yang punya gangguan pernapasan. Kamu juga pernah kena ISPA, kan?”

Vana tidak menjawab.

Andy menarik napas panjang, kemudian berkata, “Gini aja, kamu butuh sesuatu yang lain buat nyalurin hobi? Yang sekiranya bisa dilakuin di rumah aja?” tanya Andy.

Vana menggelengkan kepalanya.

Andy masih belum tahu tentang keinginan Vana untuk menjadi penulis karena sejauh ini Vana hanya menceritakannya kepada teman-teman terdekatnya saja. Andy hanya tahu dulu saat SD-SMP Vana sangat aktif menari. Hanya setahun terakhir, saat masuk SMK, ia sudah tidak pernah berlatih lagi.

✦

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja. Banyak hal terjadi. Dunia perlahan mulai berubah, namun tidak dengan Vana.

Memasuki tahun 2021, beberapa aturan mulai dilonggarkan, meski masyarakat tetap diwajibkan waspada, mengenakan masker saat berada di luar rumah, serta mengikuti program vaksinasi nasional.

Selama kurang lebih satu tahun mendekam di rumah, bukannya membawa ketenangan, keadaan tersebut justru mengubah kehidupan banyak orang, termasuk Vana. Baru saja ia ingin merajut kembali sisa-sisa kewarasannya, pandemi memaksanya kembali menunda semuanya.

Hidupnya hanya dihabiskan untuk berpikir, bingung, dan kembali berpikir.

Pada Maret 2021, Vana sudah berada di ambang kelulusan SMK dan bersiap menghadapi ujian akhir.

“Ada info apa di sekolah hari ini?” tanya Andy, papa Vana.

Keduanya tengah duduk santai di ruang tamu.

“Ujiannya lusa, Pa,” balas Vana.

“Mendadak banget?” tanya Andy lagi.

Lihat selengkapnya