“Kamu kok nggak ngabarin bakal balik ke sini?” ujar Vana.
“Nggak seru, lah, kalau dikasih tahu,” balas Erik. “Om Andy apa kabar?” lanjutnya.
“Kabar baik. Keluargamu gimana? Udah lama banget nggak ketemu mereka,” ucap Vana.
“Sesekali main ke rumah. Teman kamu sekalian tuh, si Shella,” kata Erik.
Vana terkekeh. “Teman aku? Aku aja nggak kenal,” ujar Vana. Kemudian keduanya tertawa bersama.
Namun, tanpa mereka sadari, orang yang sedang dibicarakan sebenarnya menguping obrolan tersebut. Gadis itu bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Dengan santai Shella berjalan melewati Vana dan Erik, membuat keduanya saling menatap.
“Shell!” panggil Vana.
Shella menoleh dengan ekspresi sok cuek. “Siapa, ya? Memang kita kenal?” sindirnya.
“Mulai, deh, baper-nya,” goda Erik, membuat Shella tak bisa menahan tawa.
“Jahat banget, sih, bercandanya,” ucap Shella sembari masih tertawa.
“Iya-iya, maaf. Dia duluan tuh,” kata Vana menunjuk Erik, yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Erik mencoba mencairkan suasana dengan mengusulkan, “Ya udah, ayo masuk.”
Ketiganya berjalan beriringan memasuki sanggar.
“Kamu kok tahu aku sama Vana mau latihan di sini lagi?” tanya Shella sambil berjalan.
“Nggak tahu,” jawab Erik singkat.
Shella menatap Vana, lalu beralih ke Erik. “Terus, kok kamu masuk sini?”
Erik menghentikan langkahnya dan menatap Shella gemas. “Ternyata selain baperan, kamu juga ke-pede-an, ya. Aku masuk sini bukan karena ada kalian berdua.”
“Memang iya?” tanya Shella, membuat Erik menarik napas panjang.
Vana memijat pelipisnya dan berusaha menengahi. “Udah, udah, tunda dulu ributnya. Lagian kita udah lama nggak ketemu, lho. Udah pada gede juga, kan. Masih aja kayak dulu kalian berdua nggak pernah akur.”
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke ruang latihan. Di sana sudah ada beberapa anggota sanggar lainnya yang juga akan berlatih.
“Hei, Erik!”
Bukan hanya Erik, secara refleks ketiganya menoleh ke arah sumber suara.
“Rino? Kok lo di sini?” tanya Erik bingung.
“Lho, kenapa? Ini juga daerah asal gue. Jadi setelah lulus sekolah, gue pulang ke kampung halaman,” ucap pemuda bernama Rino itu.
Erik tidak menjawab. Entah mengapa, ekspresinya berubah menjadi tidak senang saat melihat kehadiran Rino.
Tatapan Rino beralih kepada Vana dan Shella. “Hai, ada teman baru, nih. Kenalin, gue Rino,” ujarnya memperkenalkan diri.