“Hal—”
“Vana!” teriak Shella.
Vana refleks memijat telinganya karena kaget mendengar teriakan Shella dari seberang telepon. “Apaan, sih, Shell?” tanya Vana kesal.
“Kamu harus tahu, Na! Pokoknya wow banget, sih. Aku harus kasih tahu kamu. Kamu pasti kaget banget, sumpah!” ujar Shella tanpa henti.
“Bisa langsung aja nggak?” celetuk Vana.
“Aku ke rumah kamu, ya,” ujar Shella.
“Hm, nggak,” ucap Vana spontan.
“Dih! Ya udah, aku siap-siap dulu,” ucap Shella buru-buru, lalu mematikan sambungan telepon.
Vana menggelengkan kepala, pasrah karena sadar tidak akan bisa menolak sahabatnya itu.
Hari itu cuaca sangat terik. Hawa panas bahkan tidak mampu dihalau oleh angin dari kipas. Vana sedang duduk menghadap jendela kamar yang membelakangi pintu masuk.
Jam segini biasanya anak-anak lagi pada tidur di kelas sambil rebutan kipas, gumam Vana dalam hati. Mengingat kembali momen masa sekolah membuat dirinya tersenyum sendiri.
“Kenapa?”
Vana tersadar dari lamunannya saat Shella tiba-tiba muncul dari belakang. Vana refleks berdiri dan berbalik. “Kebiasaan banget, sih, masuk kamar orang nggak permisi dulu!” tegur Vana.
Bukannya merasa bersalah, Shella malah cengar-cengir. “Iya, maaf. Gitu aja marah. Lagian pintunya nggak ditutup.”
Vana menarik napas, berusaha memaklumi sifat menyebalkan sahabatnya itu. “Ngapain ke sini?”
Shella membelalakkan kedua matanya. “Segitunya banget, sih, Na?”
“Aku nanya, lho,” ujar Vana.
“Tapi nggak gitu juga nadanya!” balas Shella tak kalah tinggi dengan ekspresi yang dibuat-buat, membuat Vana sedikit geli.
Vana mengembuskan napas pendek. “Ada apa, Shella? Mau ngomong apa?” tanya Vana, kali ini dengan nada lebih lembut.
Ekspresi Shella yang tadinya lesu seketika berubah cerah. “Nggak, pengin main aja.”
Vana semakin dibuat kesal, namun memilih tidak lagi bersuara karena takut menyakiti perasaan Shella.
Akan tetapi, Shella sangat mengenal sahabatnya itu. Ia kemudian terkikik kecil dan berkata, “Maaf, deh. Aku ke sini mau cerita...” Ucapannya tertahan.
Vana menatap Shella penuh tanya, namun sudah tidak berenergi bahkan hanya untuk sekadar bertanya 'apa'.
Shella yang memahami isyarat itu langsung melanjutkan, “Tadi aku di-chat sama Niko, dan dia minta kontak kamu.”
“Hm, terus?” tanya Vana.