“Eh, tadi Rino ngomong apa sama kamu?” bisik Shella begitu mereka duduk mengeringkan keringat setelah giliran menari usai.
“Nggak ada,” jawab Vana singkat, lalu meneguk air putih dari botol yang dibawanya dari rumah.
Shella cemberut. “Ih, nggak seru banget.”
Vana tak mengacuhkannya.
Di sudut lain aula, Rino berkali-kali mencoba mengajak Erik bicara, tetapi Erik terkesan enggan merespons.
“Rik,” panggil Rino.
“Ck, apa sih?” sahut Erik tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Gue mau nanya.”
Erik hanya berdehem pelan.
“Si Vana itu emang cuek banget, ya, orangnya?” tanya Rino.
Pandangan Erik seketika berpindah menatap Rino dengan tajam. “Kenapa emang?”
“Waktu itu gue ada chat dia, tapi responsnya cuek banget.”
Erik menatapnya penuh selidik. “Dari mana lo dapet kontaknya?”
Rino mengerutkan kening melihat reaksi defensif Erik. “Kok lo gitu banget, sih? Kenapa emang?”
Erik tersadar, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rino tertawa kecil sambil menepuk pundak Erik. “Lo takut gue nyakitin temen lo?”
Erik kembali menatap Rino secara serius. “Gue sih bodo amat sama apa yang selama ini lo perbuat. Tapi jangan harap gue diem aja kalau hal itu terjadi sama sahabat-sahabat gue.”
“Jadi lo pikir gue bakal ngelakuin hal yang sama ke sahabat lo itu?” tanggap Rino dengan nada meremehkan.
Erik terus menatapnya tajam. Rino hanya terkekeh pelan lalu berjalan menjauh.
Pandangan Erik kini beralih pada Vana dan Shella yang sedang duduk berdua. Tatapannya sarat akan rasa khawatir yang tersembunyi.
***
“Widya Revana.”
Vana refleks berbalik saat mendengar nama lengkapnya dipanggil.
“Apaan sih, Rik?” dengkus Vana. Erik hanya tertawa kecil.
Erik mengedarkan pandangan ke sekeliling seperti mencari seseorang. “Shella mana?”
“Lagi ngobrol.”
Erik memiringkan kepala dan menyipitkan mata. “Ngobrol?”
Vana mengangguk yakin.
Pada saat yang sama, orang yang sedang dibicarakan muncul dengan wajah murung.
“Vana, Erik…” panggil Shella dengan nada menggebu ingin menangis.
“Kenapa, Shell?” tanya Vana.
Shella memayunkan bibir. “Niko…”
Erik tersentak begitu mendengar nama itu. “Ada apa?” tanyanya dengan nada agak tinggi dan ekspresi serius, membuat Vana dan Shella kompak menatapnya heran.
“Ada apa, Rik?” tanya Vana balik.
Erik menggeleng cepat. “Nggak, nggak apa-apa. Emang kenapa sama Niko?”
“Dia ternyata udah punya cewek! Padahal dia sering banget telepon aku hampir tiap malam!” adu Shella.
Vana hanya bisa menahan tawa melihat tingkah sahabatnya.